Sosiologi Kritis dan Post Modern


Istilah sosiologi berasal dari kata latin socius yang berarti kawan dan kata Yunani logos berarti kata atau berbicara. Jadi sosiologi berbicara mengenai masyarakat. Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari struktur sosial dan proses-proses sosial termasuk perubahan sosial. Struktur sosial adalah adalah keseluruhan jalinan antara unsur-unsur sosial yang pokok, yaitu kaidah-kaidah sosial, lembaga-lembaga sosial, kelompok-kelompok serta lapisan-lapisan sosial. Sedangkan proses sosial adalah pengaruh timbal balik antara berbagai segi kehidupan bersama (Soemardjan dan Soemardi, 1964 dalam Narwoko dan Suyanto, 2006). Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) sosiologi adalah pengetahuan atau ilmu tentang sifat, perilaku, dan perkembangan masyarakat atau ilmu tentang struktur sosial, proses sosial, dan perubahannya.
Sosiologi sebagai ilmu pengetahuan memiliki lapangan penyelidikan, sudut pandangan, metode, dan susunan pengetahuan (Ahmadi, 2004). Obyek penelitian sosiologi adalah tingkah laku manusia dalam kelompok. Sudut pandangannya ialah memandang hakikat masyarakat kebudayaan dan individu secara ilmiah. Susunan pengetahuan dalam sosiologi terdiri atas konsep-konsep dan prinsip-prinsip mengenai kehidupan kelompok sosial, kebudayaan dan perkembangan pribadi. Kritis menurut KBBI adalah bersifat tidak lekas percaya; bersifat selalu berusaha menemukan kesalahan atau keliruan; tajam dipenganalisaan. Dengan demikian, sosiologi kritis adalah menganalisa secara tajam mengenai sifat, perilaku, dan perkembangan masyarakat serta struktur sosial, proses sosial, dan perubahannya.
Produk sosiologi adalah para pemikir yang senantiasa peka dan kritis terhadap realitas sosial. Berpikir kritis adalah berpikir untuk menyelidiki secara sistematis proses berpikir itu sendiri. Maksudnya tidak hanya memikirkan dengan sengaja, tetapi juga meneliti bagaimana kita dan orang lain menggunakan bukti dan logika. Aliran pemikiran para pemikir dibedakan atas aliran pemikiran rasionalisme dan empirisme (Tjahjadi, 2004). Rasionalisme adalah aliran filsafat yang mengajarkan bahwa sumber pengetahuan sejati adalah akal budi atau rasio bukan pengalaman. Pengalaman hanya dapat dipakai untuk menegaskan pengetahuan yang telah didapatkan dari rasio. Empirisme adalah aliran filsafat yang menyatakan bahwa pengalaman merupakan sumber utama, baik pengalaman lahiriah maupun pengalaman batiniah. Rasio bukan sumber pengetahuan, tetapi ia bertugas untuk mengolah bahan-bahan yang diperoleh dari pengalaman untuk dijadikan pengetahuan.
Adanya pertentangan antara aliran rasionalisme dan empirisme memunculkan jalan ketiga yang dikemukakan oleh Kant bahwa semua pengetahuan mulai dari pengalaman, tetapi tidak seluruhnya dari pengalaman. Gambaran yang kita miliki dibuat oleh akal pikiran dari bahan tak teratur yang disajikan oleh indera. Ini menjadikan kesadaran lebih penting daripada rasionalitas dan hal itu dapat dibangun dengan tindakan komunikatif atau interaksi, sehingga dapat menghasilkan kebenaran, tetapi kebenaran tersebut tidak mesti melalui konsensus. Kebenaran dapat diperoleh dengan membebaskan diri dari akal rasional dengan mengikatkan diri pada hati nurani. Apabila ada perbenturan antara sesuatu yang dipikirkan oleh akal rasional dengan apa yang dirasakan oleh hati nurani, maka apa kata hati nurani itulah yang wajib diikuti. Dengan kata lain, apa yang dirasakan oleh hati nurani tersebut melampaui pemikiran akal dan sumber pengetahuan atau keilmuan tanpa adanya kepentingan diri.
Sebagai paham keilmuan, teori kritis dikembangkan dari konsepsi kritis terhadap pemikiran dan pandangan yang sebelumnya. Sedikitnya, ada dua konsepsi perihal ”kritis” yang perlu diklarifikasi (Guba, 1990). Pertama, ”kritis internal” terhadap analisis argumen dan metode yang digunakan dalam berbagai penelitian. Hal ini menunjukkan bahwa argumen yang ada harus didialektikaka dengan argumen yang lain, sehingga memunculkan argumen yang lebih baru. Dan argumen yang baru tersebut harus didialektika dengan argumen yang baru lagi, sehingga sikap kritis tidak akan pernah berhenti. Kedua, makna ”kritis” dalam reformulasi masalah logika. Logika bukan semata-mata pengaturan formal dan kriteria internal dalam pengamatan, tetapi juga melibatkan bentuk-bentuk khusus pemikiran yang difokuskan pada skeptisisme dalam pengertian rasa ingin tahu terhadap institusi sosial dan konsepsi tentang realitas yang berkaitan dengan ide, pemikiran, dan bahasa melalui kondisi sosial historis. Reformulasi masalah logika juga dilampaui dengan adanya pemikiran intuitif serta pencarian sesuatu yang sulit dikaitkan dengan logika, tetapi hal tersebut merupakan suatu logika tanpa atau belum terdapat pembuktian secara ilmiah.
Terdapat setidaknya enam isu pokok yang menjadi ciri paradigma kritis dalam praktik keilmuan, khususnya dalam bidang pendidikan (Salim, 2006), yaitu: 1. Prosedur, metode dan metodologi keilmuan. 2. Perumusan kembali standar dan aturan keilmuan sebagai logika dalam konteks historis. 3. Dikotomi antara objektif dan subjektif. 4. Keberpihakan ilmu dalam interaksi sosial. 5. Pengembangan ilmu merupakan produksi nilai-nilai. 6. Ilmu pengetahuan (khususnya ilmu sosial) merupakan studi tentang masa lalu. Enam isu pokok tersebut, pada dasarnya memperbaharui dan memperkaya khasanah ilmu pengetahuan, sehingga ilmu pengetahuan tidak berjalan secara stagnan tetapi berkembang tanpa batas.
Kreatifitas
Kreatifitas menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah kemampuan untuk mencipta atau perihal berkreasi. Kreatifitas bukan sebuah kemampuan tunggal yang bisa digunakan seseorang dalam setiap aktivitasnya, tetapi kecerdasan yang majemuk. Ada tiga bahan dasar kreatifitas (Teresa dalam Goleman dkk, 2005), yaitu: Keahlian dalam bidang khusus berupa ketrampilan dalam hal tertentu, seperti linguistis, logis, spasial, musikal, kinestetis, intrapersonal, dan interpersonal. Ketrampilan ini merupakan penguasaan dasar dalam suatu bidang. 2. Ketrampilan berpikir kreatif. Ketrampilan berpikir kreatif ini mencakup kemampuan untuk membayangkan rentang kemungkinan yang beragam, tekun dalam menangani persoalan, dan memiliki standar kerja yang tinggi. 3. Motivasi intrinsik. Dorongan untuk melakukan sesuatu semata demi kesenangan melakukannya bukan karena hadiah atau kompensasi. Untuk menuju pada kreatifitas harus melakukan dan mengupayakan pikiran, sikap, dan tindakan yang positif serta membuang sesuatu hal yang negatif.
Orang kreatif bukan saja terbuka terhadap segala jenis pengalaman baru, tetapi juga berani mengambil risiko. Menemukan keberanian adalah merangkul kecemasan dan mengambil langkah selanjutnya adalah penting bagi kreatifitas jenis apa pun. Cemas adalah kaki tangan kreatifitas. Kecemasan biasanya terjadi bila membuat sesuatu yang diluar kebiasaan atau diluar aturan dan membuat kebiasaan serta aturan baru yang lebih baik daripada sebelumnya. Akan tetapi, mengakui kecemasan dan kemauan untuk mengandengnya yang penting. Pikiran yang dipenuhi oleh kekhawatiran menganggu orang berfokus pada pekerjaan. Kecemasan semacam ini merupakan pembunuh kreatifitas. Semakin terbebas dari pikiran penghambat, semakin mudah memusatkan diri dalam upaya mengembangkan kreatifitas dari sumber sejati satu-satunya, yaitu diri sendiri.
Kreatifitas pada akhirnya harus tumbuh dari perpaduan unik antara ciri kepribadian dan kecerdasan pribadi yang menjadi seseorang berbeda. Untuk mengembangkan dan meningkatkan kreatifitas, harus dipupuk dan dikembangkan jiwa kreatif. Ada empat unsur dasar pembentuk jiwa kreatif. Unsur-unsur tersebut sudah melekat pada semua orang sejak lahir, tetapi sering jiwa tersebut tidak diasah sehingga tumpul dalam berkreatifitas. Tanpa sifat-sifat tersebut adalah sulit untuk menjadi kreatif. Pertama, cari tahu. Rasa ingin tahu adalah kebutuhan utama jiwa kreatif. Tanpa adanya minat pada apa yang bisa diberikan dunia ini, apa yang menjadikan segala sesuatu berfungsi, gagasan apa yang dimiliki orang lain, seseorang tak memiliki alasan untuk kreatif. Rasa ingin tahu yang mendorong seseorang menyelidiki bidang baru atau mencari cara mengerjakan sesuatu dengan lebih baik. Rasa ingin tahu mengendalikan dorongan mencipta, bereksperimen, dan membangun.
Kedua, olah keterbukaan. Keterbukaan adalah vital dalam jiwa kreatif. Dengan bersikap terbuka, seseorang mampu menerima ide baru dan memadukannya ke dalam otak. Orang-orang kreatif bersifat terbuka terhadap gagasan, manusia, tempat, dan hal-hal baru. Keterbukaan juga terkait kesadaran akan dan tanggap terhadap kebetulan-kebetulan dalam hidup. Ketiga, keberanian menanggung risiko. Tanpa adanya keberanian menanggung risiko, kebanyakan prestasi kreatif takkan pernah terwujud. Keberanian menanggung risiko ini terkait erat dengan zona kenyamanan. Jika berani menanggung risiko, seseorang akan mampu meninggalkan zona kenyamanan untuk bertemu dengan gagasan, pribadi, dan informasi baru yang akan melejitkan kreatifitas. Keempat, energi. Sifat pamungkas yang dibutuhkan jiwa kreatif adalah energi. Tanpa adanya energi mental yang mencukupi, perburuan kreatif seseorang akan cacat karena kekeliruan logika dan pemikiran jangka pendek yang mustahil bisa diterapkan. Tanpa adanya energi fisik yang mencukupi, gagasan kreatif tak bisa dijalankan atau terkurung dalam lemari dan berkarat.
Selain dibutuhkan jiwa yang kreatif juga diperlukan bahan dasar kreatifitas. Kemampuan untuk membuat keputusan intuitif merupakan bahan dasar kreatifitas (Goleman dkk, 2005). Intuisi berarti menghapus kontrol atas pikiran dan mempercayai visi alam tak sadar. Instuisi mempunyai keberanian sendiri karena ia berlandaskan pada kemampuan alam tak sadar untuk mengorganisasi informasi menjadi ide-ide baru yang tak terduga. Dalam proses berpikir intuisi ini, pemikiran secara logika harus ditanggalkan. Kreatifitas yang didasari atas kreatif rasional dan kreatif intuitif harus diimplementasikan pada sesuatu yang nyata untuk menjadikan sesuatu produk yang baru. Hal ini dilakukan dengan mengaitkan sesuatu hal (bagian tanaman, tumbuhan dan lainnya) dengan hal lain (sesuatu produk) yang mampu membuat nilai tambah dan berdaya guna serta orisinal. Upaya tersebut dilakukan dengan memilah dan memilih bagian dari sesuatu untuk dibuat sesuatu yang inovatif. Dalam pengajaran akuntansi, Bulo (2002) mengidentifikasi salah satu keluaran dari proses pengajaran akuntansi adalah kemampuan intelektual yang terdiri dari ketrampilan teknis dasar akuntansi dan kapasitas untuk berpikir kritis dan kreatif. Kreatifitas dapat meningkatkan kepercayaan dan prestasi anak didik. Anak didik kreatif memiliki peluang lebih tinggi untuk memecahkan masalah dari sudut pandang berbeda, sehingga solusi terbaik selalu muncul. Kreatifitas memungkinkan anak didik beradaptasi dan merespon perubahan lingkungan, sehingga kinerja dapat ditingkatkan.
Mentalitas
Mentalitas menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) merupakan keadaan dan aktivitas jiwa (batin) atau cara berpikir dan berperasaan. Keadaan dan aktivitas jiwa atau cara berpikir dan berperasaan tidak hanya ditentukan berdasarkan intelligentia quotient (IQ), tetapi juga emotional quotient (EQ) dan spiritual quotient (SQ). IQ merupakan cermin dari kecerdasan kognitif seseorang. IQ adalah interpretasi hasil tes intelegensia ke dalam angka yang dapat menjadi petunjuk mengenai kedudukan tingkat intelegensia seseorang (Azwar, 2004 dalam Tikollah, 2006). EQ adalah kemampuan mengelola emosi diri sendiri dan hubungannya dengan orang lain. Ada empat komponen yang membentuk EQ, yaitu kesadaran diri, pengeolaan diri, kesadaran sosial, dan keahlian sosial.
SQ adalah adalah kecerdasan untuk menghadapi dan memecahkan persoalan makna dan nilai, yaitu menempatkan perilaku dan hidup manusia dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya serta menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dibandingkan dengan yang lain (Zohar & Marshall, 2004). SQ dimiliki oleh orang-orang yang memahami makna, nilai, dan tujuan hidup. Indikasi dari SQ yang telah berkembang dengan baik mencakup: a. Kemampuan untuk bersikap fleksibel; b. Adanya tingkat kesadaran diri yang tinggi; c. Kemampuan untuk menghadapi dan memanfaatkan penderitaan; d. Kemampuan untuk menghadapi dan melampaui perasaan sakit; e. Kualitas hidup yang diilhami oleh visi dan nilai-nilai; f. Keengganan untuk menyebabkan kerugian yang tidak perlu; g. Kecenderungan untuk berpandangan holistik; h. Kecenderungan untuk bertanya ”mengapa” atau ”bagaimana jika” dan berupaya untuk mencari jawaban-jawaban yang mendasar; i. Memiliki kemudahan untuk bekerja melawan konvensi.
IQ hanya menentukan 20% dari perjalanan hidup seseorang. Sisanya, ditentukan oleh kemampuan yang terkait dengan EQ dan SQ. IQ sebagai penghasil modal material, EQ sebagai penghasil modal sosial, dan SQ sebagai penghasil modal spiritual. Keseimbangan IQ, EQ, dan SQ akan memupuk dan memperkuat sifat dasar manusia, yaitu kasih, sayang, adil, dan syukur. Sifat dasar manusia tersebut akan memperkokoh ketangguhan pribadi, sosial, dan lingkungan. Ini akan menjadi ketiga ketangguhan tersebut dilandasi dengan sifat dasar manusia, yaitu kasih, sayang, adil, dan syukur.
Ketangguhan pribadi menurut Agustian (2006) adalah ketika seseorang berada pada posisi telah memiliki pegangan/prinsip hidup yang kokoh dan jelas. Seseorang bisa dikatakan tangguh, apabila ia telah memiliki prinsip yang kuat sehingga tidak mudah terpengaruh oleh lingkungannya yang terus berubah dengan cepat. Ia tidak menjadi korban dari pengaruh lingkungan yang dapat mengubah prinsip hidup atau cara berpikirnya. Orang yang telah memiliki prinsip hidup yang kuat, ia akan mampu untuk mengambil suatu keputusan yang bijaksana dengan menyelaraskan prinsip yang dianutnya dengan kondisi lingkungannya tanpa harus kehilangan pegangan hidup, memiliki prinsip dari dalam diri keluar bukan dari luar ke dalam dan mampu mengendalikan pikirannya sendiri ketika berhadapan dengan situasi yang sangat menekan.
Seseorang boleh dikatakan tangguh apabila telah merdeka dari berbagai belenggu yang bisa menyesatkan penglihatan dan pikiran, sehingga tidak mudah terhanyut oleh belenggu yang bisa menyesatkan serta mampu menjaga pikiran agar tetap jernih dan dalam kondisi fitrah, sehingga segala kebijaksanaan yang dibuatnya terbebas dari paradigma yang keliru. Orang yang memiliki ketangguhan pribadi tidak akan pernah sakit hati, karena ia sendiri tidak mengijinkan hatinya untuk disakiti dan ia mampu untuk memilih respon atau reaksi yang sesuai dengan prinsip yang dianut. Ia memiliki pedoman yang jelas dalam mencapai tujuan hidup dan tetap fleksibel serta bijaksana dalam menghadapi berbagai realitas kehidupan yang riil. Ia mampu keluar dari dalam diri untuk melihat dirinya sendiri dari luar, sehingga mampu bersikap adil dan terbuka pada dirinya juga orang lain.
Sejarah Post Modern

The "postmodernisme" istilah pertama kali memasuki leksikon filosofis pada tahun 1979, dengan publikasi The Postmodern Condition oleh Jean-François Lyotard. Pengurutan berdasarkan kebangsaan mereka mungkin duplikat skema modernis mereka akan mempertanyakan, tetapi ada perbedaan yang kuat antara mereka, dan ini cenderung untuk membagi sepanjang garis linguistik dan budaya. Prancis, misalnya, bekerja dengan konsep yang dikembangkan selama revolusi strukturalis di Paris pada 1960-an dan awal 1950-an, termasuk pembacaan strukturalis Marx dan Freud. Untuk alasan ini mereka sering disebut "poststrukturalis." Mereka juga mengutip peristiwa Mei 1968 sebagai momen DAS untuk pemikiran modern dan lembaga-lembaganya, terutama universitas. Orang Italia, sebaliknya, memanfaatkan tradisi estetika dan retorika termasuk tokoh-tokoh seperti Giambattista Vico dan Benedetto Croce. Penekanan mereka adalah sangat historis, dan mereka menunjukkan tidak ada daya tarik dengan momen revolusioner. Sebaliknya, mereka menekankan kontinuitas, narasi, dan perbedaan dalam kontinuitas, bukan kontra-strategi dan kesenjangan diskursif. Tidak ada pihak yang, bagaimanapun, menunjukkan bahwa postmodernisme adalah sebuah serangan terhadap modernitas atau keberangkatan lengkap dari itu. Sebaliknya, perbedaan nya terletak dalam modernitas itu sendiri, dan postmodernisme merupakan kelanjutan dari pemikiran modern dalam modus lain.

Pengertian Post Modern
Jean-Francois Lyotard (1984) dikenal sebagai tokoh yang pertama kali mengenalkan konsep Postmodernisme dalam filsafat. Istilah postmodern sudah lama dipakai di dunia arsitektur. Berdasarkan asal-usul kata, Postmodernisme, berasal dari bahasa Inggris yang artinya faham (isme), yang berkembang setelah (post) modern. Istilah ini muncul pertama kali pada tahun 1930 pada bidang seni oleh Federico de Onis untuk menunjukkan reaksi dari moderninsme.  Kemudian pada bidang Sejarah oleh Toyn Bee dalam bukunya Study of History pada tahun 1947. Setelah itu berkembanga dalam bidang-bidang lain dan mengusung kritik atas modernisme pada bidang-bidangnya sendiri-sendiri.
Postmodernisme adalah faham yang berkembang setelah era modern dengan modernisme-nya. Postmodernisme bukanlah faham tunggal sebuat teori, namun justru menghargai teori-teori yang bertebaran dan sulit dicari titik temu yang tunggal.
Postmodernisme dibedakan dengan postmodernitas, jika postmodernisme lebih menunjuk pada konsep berpikir. Sedangkan postmodernitas lebih menunjuk pada situasi dan tata sosial sosial produk teknologi informasi, globalisasi, fragmentasi gaya hidup, konsumerisme yang berlebihan, deregulasi pasar uang dan sarana publik, usangnya negara dan bangsa serta penggalian kembali inspirasi-inspirasi tradisi. Hal ini secara singkat sebenarnya ingin menghargai faktor lain (tradisi, spiritualitas) yang dihilangkan oleh rasionalisme, strukturalisme dan sekularisme.
Setidaknya kita melihat dalam bidang kebudayaan yang diajukan Frederic Jameson, bahwa postmodernisme bukan kritik satu bidang saja, namun semua bidang yang termasuk dalam budaya. Ciri pemikiran di era postmodern ini adalah pluralitas berpikir dihargai, setiap orang boleh berbicara dengan bebas sesuai pemikirannya. Postmodernisme menolak arogansi dari setiap teori, sebab setiap teori punya tolak pikir masing-masing dan hal itu berguna.[

Menurut Pauline Rosenau (1992) mendefinisikan Postmodern secara gamblang dalam istilah yang berlawanan antara lain:
§  Pertama, postmodernisme merupakan kritik atas masyarakat modern dan kegagalannya memenuhi janji-janjinya. Juga postmodern cenderung mengkritik segala sesuatu yang diasosiasikan dengan modernitas.Yaitu pada akumulasi pengalaman peradaban Barat adalah industrialisasi, urbanisasi, kemajuan teknologi, negara bangsa, kehidupan dalam jalur cepat. Namun mereka meragukan prioritas-prioritas modern seperti karier, jabatan, tanggung jawab personal, birokrasi, demokrasi liberal, toleransi, humanisme, egalitarianisme, penelitian objektif, kriteria evaluasi, prosedur netral, peraturan impersonal dan rasionalitas.
§  Kedua, teoritisi postmodern cenderung menolak apa yang biasanya dikenal dengan pandangan dunia (world view), metanarasi, totalitas, dan sebagainya. Seperti Baudrillard (1990:72) yang memahami gerakan atau impulsi yang besar, dengan kekuatan positif, efektif dan atraktif mereka (modernis) telah sirna. Postmodernis biasanya mengisi kehidupan dengan penjelasan yang sangat terbatas atau sama sekali tidak ada penjelasan. Namun, hal ini menunjukkan bahwa selalu ada celah antara perkataan postmodernis dan apa yang mereka terapkan. Sebagaimana yang akan kita lihat, setidaknya beberapa postmodernis menciptakan narasi besar sendiri. Banyak postmodernis merupakan pembentuk teoritis Marxian, dan akibatnya mereka selalu berusaha mengambil jarak dari narasi besar yang menyifatkan posisi tersebut.
§  Ketiga, pemikir postmodern cenderung menggembor-gemborkan fenomena besar pramodern seperti emosi, perasaan, intuisi, refleksi, spekulasi, pengalaman personal, kebiasaan, kekerasan, metafisika, tradisi, kosmologi, magis, mitos, sentimen keagamaan, dan pengalaman mistik. Seperti yang terlihat, dalam hal ini Jean Baudrillard (1988) benar, terutama pemikirannya tentang pertukaran simbolis (symbolic exchange).
§  Keempat, teoritisi postmodern menolak kecenderungan modern yang meletakkan batas-batas antara hal-hal tertentu seperti disiplin akademis, budaya dan kehidupan, fiksi dan teori, image dan realitas. Kajian sebagian besar pemikir postmodern cenderung mengembangkan satu atau lebih batas tersebut dan menyarankan bahwa yang lain mungkin melakukan hal yang sama. Contohnya Baudrillard (1988) menguraikan teori sosial dalam bentuk fiksi, fiksi sains, puisi dan sebagainya.
§  Kelima, banyak postmodernis menolak gaya diskursus akademis modern yang teliti dan bernalar (Nuyen, 1992:6). Tujuan pengarang postmodern acapkali mengejutkan dan mengagetkan pembaca alih-alih membantu pembaca dengan suatu logika dan alasan argumentatif. Hal itu juga cenderung lebih literal daripada gaya akademis.

Akhirnya, postmodern bukannya memfokuskan pada inti (core) masyarakat modern, namun teoritisi postmodern mengkhususkan perhatian mereka pada bagian tepi (periphery). Seperti dijelaskan oleh Rosenau (1992:8) bahwa perihal apa yang telah diambil begitu saja (taken for granted), apa yang telah diabaikan, daerah-daerah resistensi, kealpaan, ketidakrasionalan, ketidaksignifikansian, penindasan, batas garis, klasik, kerahasiaan, ketradisionalan, kesintingan, kesublimasian, penolakan, ketidakesensian, kemarjinalan, keperiferian, ketiadaan, kelemahan, kediaman, kecelakaan, pembubaran, diskualifikasi, penundaan, ketidakikutan.

Dari beberapa pendapat tersebut di atas, dapat dipahami bahwa teoritisi postmodern menawarkan intermediasi dari determinasi, perbedaan (diversity) daripada persatuan (unity), perbedaan daripada sintesis dan kompleksitas daripada simplikasi.

Secara lebih umum, Bauman (1992:31) menetapkan kebudayaan postmodern antara lain: pluralistis, berjalan di bawah perubahan yang konstan, kurang dalam segi otoritas yang mengikat secara universal, melibatkan sebuah tingkatan hierarkis, merujuk pada polivalensi tafsiran, didominasi oleh media dan pesan-pesannya, kurang dalam hal kenyataan mutlak karena segala yang ada adalah tanda-tanda, dan didominasi oleh pemirsa. Lebih lanjut Bauman (1992:98) menjelaskan bahwa postmodernitas berarti pembebasan yang pasti dari kecenderungan modern khusus untuk mengatasi ambivalensi dari mempropagandakan kejelasan tunggal akan keseragaman … Postmodernitas adalah modernitas yang telah mengakui ketidakmungkinan terjadinya proyek yang direncanakan semula. Postmodernitas adalah modernitas yang berdamai dengan kemustahilannya dan memutuskan, tentang baik dan buruknya, untuk hidup dengannya. Praktik modern berlanjut sekarang, meskipun sama sekali tanpa objektif (ambivalensi) yang pernah memicunya.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa postmodernitas mengkhawatirkan namun demikian masih menggembirakan. Atau dengan kata lain, postmodernitas penuh dengan sebuah inomic-tercerabut antara kesempatan yang ia buka dan ancaman-ancaman yang bersembunyi dibalik setiap kesempatan. Juga kebanyakan kaum postmodernis memiliki, sebagaimana kita akan ketahui, sebuah pandangan yang jauh lebih pesimistis atas masyarakat postmodern.

Hal tersebut sesuai dengan pemikiran Jameson (1989) bahwa masyarakat postmodern tersusun atas lima elemen utama, antara lain: (1) masyarakat postmodern dibedakan oleh superfisialitas dan kedangkalannya; (2) ada sebuah pengurangan atas emosi atau pengaruh dalam dunia postmodern; (3) ada sebuah kehilangan historisitas, akibatnya dunia postmodern disifatkan dengan pastiche; (4) bukannya teknologi-teknologi produktif, malahan dunia postmodern dilambangkan oleh teknologi-teknologi reproduktif dan; (5) ada sistem kapitalis multinasional

Tokoh-Tokoh Post Modern
Banyak tokoh-tokoh yang memberikan arti postmodernisme sebagai kelanjutan dari modernisme. Namun kelanjutan itu menjadi sangat beragam.
Ø  Bagi Lyotard dan Geldner, modernisme adalah pemutusan secara total dari modernisme.
Ø  Bagi Derrida, Foucault dan Baudrillard, bentuk radikal dari kemodernan yang akhirnya bunuh diri karena sulit menyeragamkan teori-teori.
Ø  Bagi David Graffin, Postmodernisme adalah koreksi beberapa aspek dari moderinisme.
Ø  Lalu bagi Giddens, itu adalah bentuk modernisme yang sudah sadar diri dan menjadi bijak.
Ø  Yang terakhir, bagi Habermas, merupakan satu tahap dari modernisme yang belum selesai.

Bahwa postmodernisme adalah tak dapat dijelaskan adalah sebuah disangkal. Namun, dapat digambarkan sebagai serangkaian praktek kritis, strategis dan retoris menggunakan konsep-konsep seperti perbedaan, pengulangan, jejak, simulacrum, dan hiperrealitas untuk mengacaukan konsep lain seperti keberadaan, identitas, kemajuan sejarah, kepastian epistemis, dan univocity makna.


Akhirnya, saya telah menyertakan ringkasan kritik Habermas postmodernisme, mewakili jalur utama diskusi di kedua sisi Atlantik. Habermas berpendapat bahwa postmodernisme bertentangan sendiri melalui self-referensi, dan mencatat bahwa postmodernis mengandaikan konsep mereka dinyatakan berusaha untuk merusak, misalnya, kebebasan, subjektivitas, atau kreativitas. Dia melihat dalam aplikasi retorika strategi yang digunakan oleh avant-garde artistik dari abad kesembilan belas dan kedua puluh, avant-garde yang mungkin hanya karena modernitas memisahkan nilai-nilai artistik dari ilmu pengetahuan dan politik di tempat pertama. Pada pandangannya, postmodernisme adalah aestheticization terlarang pengetahuan dan wacana publik. Terhadap ini, Habermas berusaha untuk merehabilitasi alasan modern sebagai suatu sistem peraturan prosedural untuk mencapai konsensus dan kesepakatan antara subyek berkomunikasi. Sejauh postmodernisme memperkenalkan estetika main-main dan subversi ke dalam ilmu pengetahuan dan politik, ia menolak itu atas nama modernitas bergerak menuju penyelesaian daripada transformasi diri.

    1. Prekursor
    2. The Postmodern Condition
    3. Genealogi dan Subjektivitas
    4. Produktif Perbedaan
    5. Dekonstruksi
    6. Hiperrealitas
    7. Hermeneutika Postmodern
    8. Postmodern Retorika dan Estetika
    9. Habermas Kritik
    Bibliografi
    Lain-lain Internet Resources
    Related Entries

1. Prekursor

Modernisme filosofis menjadi masalah dalam postmodernisme dimulai dengan "revolusi Copernican," Kant yang, asumsinya bahwa kita tidak dapat mengetahui hal-hal dalam diri mereka dan bahwa objek pengetahuan harus sesuai dengan fakultas kita tentang representasi (Kant 1964). Ide-ide seperti Tuhan, kebebasan, keabadian, dunia, awal pertama, dan akhir akhir hanya memiliki fungsi regulatif untuk pengetahuan, karena mereka tidak dapat menemukan pemenuhan contoh antara objek-objek pengalaman. Dengan Hegel, kedekatan hubungan subyek-obyek itu sendiri terbukti ilusi. Saat ia menyatakan dalam The Fenomenologi Roh, "kita menemukan bahwa baik satu maupun lainnya hanya segera hadir di rasa-kepastian, tetapi masing-masing berada di dimediasi saat yang sama" (Hegel 1977, 59), karena subjek dan objek keduanya contoh dari "ini" dan "sekarang," baik yang segera dirasakan. Jadi yang disebut persepsi langsung kurang memiliki kepastian kedekatan itu sendiri, kepastian yang harus ditangguhkan ke bekerja di luar sistem yang lengkap pengalaman. Namun, kemudian pemikir menunjukkan bahwa logika Hegel mensyaratkan konsep, seperti identitas dan negasi (lihat Hegel 1969), yang tidak dapat diri mereka diterima sebagai segera diberikan, dan karena itu harus diperhitungkan dalam beberapa cara, non-dialektis.

Abad kemudian kesembilan belas adalah usia modernitas sebagai realitas dicapai, dimana ilmu pengetahuan dan teknologi, termasuk jaringan komunikasi massa dan transportasi, membentuk kembali persepsi manusia. Tidak ada perbedaan yang jelas, kemudian, antara alam dan buatan dalam pengalaman. Memang, para pendukung banyak postmodernisme kelangsungan tantangan seperti perbedaan tout pengadilan, melihat dalam modernisme dicapai munculnya masalah tradisi filsafat telah ditekan. Konsekuensi dari modernisme dicapai adalah apa yang postmodernis mungkin sebut sebagai de-realisasi. De-realisasi mempengaruhi baik subjek dan objek pengalaman, sehingga rasa identitas, keteguhan, dan substansi marah atau dibubarkan. Prekursor penting untuk gagasan ini ditemukan di Kierkegaard, Marx dan Nietzsche. Kierkegaard, misalnya, menggambarkan masyarakat modern sebagai jaringan hubungan di mana individu diratakan menjadi hantu abstrak yang dikenal sebagai "masyarakat" (Kierkegaard 1962, 59). Masyarakat modern, berbeda dengan masyarakat kuno dan abad pertengahan, adalah ciptaan pers, yang merupakan satu-satunya instrumen mampu memegang bersama massa individu nyata "yang pernah ada dan tidak pernah bisa bersatu dalam sebuah situasi yang sebenarnya atau organisasi" ( Kierkegaard 1962, 60). Dalam pengertian ini, masyarakat telah menjadi realisasi pemikiran abstrak, yang diselenggarakan bersama oleh sebuah media berbahasa buatan dan meliputi segala sesuatu untuk semua orang dan untuk siapa pun. Dalam Marx, di sisi lain, kita memiliki analisis fetisisme komoditas (Marx 1983, 444-461) di mana objek kehilangan soliditas nilai penggunaan dan menjadi tokoh spektral di bawah aspek nilai tukar. Mereka alam hantu hasil dari penyerapan mereka ke dalam jaringan hubungan sosial, di mana nilai-nilai mereka berfluktuasi secara independen dari keberadaan jasmani mereka. Subyek manusia sendiri mengalami hal ini de-realisasi karena komoditas adalah produk dari kerja mereka. Pekerja secara paradoks kehilangan diri mereka dalam mewujudkan diri mereka sendiri, dan ini menjadi simbol bagi mereka yang mengaku sensibilitas postmodern.

Kami juga menemukan saran-saran de-realisasi pada Nietzsche, yang berbicara sebagai sebagai "napas terakhir dari realitas menguap" dan pernyataan pembubaran perbedaan antara "nyata" dan "nyata" dunia. Dalam Twilight dari Idols, ia menelusuri sejarah perbedaan ini dari Plato ke waktu sendiri, di mana "dunia sejati" menjadi ide yang tidak berguna dan berlebihan (Kaufmann (ed.) 1954, 485-86). Namun, dengan pengertian tentang dunia sejati, katanya, kita juga telah dilakukan jauh dengan yang jelas. Apa yang tersisa adalah tidak nyata dan tidak nyata, tapi ada sesuatu di antara, dan karena itu sesuatu yang mirip dengan realitas virtual vintage yang lebih baru.

Gagasan keruntuhan antara yang nyata dan jelas disarankan dalam buku pertama Nietzsche, The Birth of Tragedy (Nietzsche 1967a), di mana ia menyajikan tragedi Yunani sebagai sintesis dari impuls seni alami yang diwakili oleh Apollo dewa dan Dionysus. Dimana Apollo adalah dewa bentuk yang indah dan gambar, Dionisius adalah dewa kegilaan dan kemabukan, yang di bawah kekuasaan mantra eksistensi dikhususkan rusak di saat-saat kesatuan dibedakan dengan alam. Sementara seni tragis adalah meneguhkan hidup untuk bergabung dengan dua impuls, logika dan ilmu pengetahuan yang dibangun di atas representasi Apollonian yang telah menjadi beku dan tak bernyawa. Oleh karena itu, Nietzsche percaya hanya kembalinya impuls seni Dionysian dapat menghemat masyarakat modern dari sterilitas dan nihilisme. Penafsiran ini pertanda konsep postmodern seni dan representasi, dan juga mengantisipasi daya tarik postmodernis 'dengan prospek momen revolusioner auguring rasa, baru anarkis dari masyarakat.
Nietzsche juga merupakan prekursor untuk postmodernisme dalam analisis silsilah tentang konsep dasar, terutama apa yang diperlukan untuk menjadi konsep inti dari metafisika Barat, "I." Oleh Nietzsche, konsep "Aku" muncul dari sebuah kewajiban moral bertanggung jawab atas tindakan kita. Untuk bertanggung jawab kita harus menganggap bahwa kita adalah penyebab dari tindakan kita, dan penyebab ini harus terus dari waktu ke waktu, mempertahankan identitasnya, sehingga penghargaan dan hukuman diterima sebagai konsekuensi atas tindakan yang dianggap menguntungkan atau merugikan orang lain (Kaufman (ed ) 1954, 482-83; 1967b, 24-26, 58-60).. Dengan cara ini, konsep "Aku" muncul sebagai konstruksi sosial dan ilusi moral. Menurut Nietzsche, arti moral dari "Aku" sebagai penyebab identik diproyeksikan ke kejadian di dunia, di mana identitas hal, penyebab, efek, dll, mengambil bentuk dalam representasi mudah menular. Jadi logika lahir dari kebutuhan untuk mematuhi norma-norma sosial umum yang membentuk kawanan manusia menjadi masyarakat mengetahui dan bertindak subyek.

Untuk postmodernis, silsilah Nietzsche konsep dalam "On Kebenaran dan terletak di Rasa nonmoral" (Nietzsche 1979, 77-97) juga merupakan referensi penting. Dalam teks ini, Nietzsche mengajukan hipotesis bahwa konsep-konsep ilmiah adalah rantai metafora mengeras menjadi kebenaran yang diterima. Pada akun ini, metafora dimulai ketika stimulus saraf disalin sebagai gambar, yang kemudian ditiru dalam suara, sehingga menimbulkan, ketika diulang, dengan kata, yang menjadi sebuah konsep ketika kata itu digunakan untuk menunjuk beberapa contoh dari peristiwa tunggal. Metafora konseptual dengan demikian terletak karena mereka menyamakan hal-hal yang tidak setara, sebagaimana rantai metafora bergerak dari satu tingkat ke yang lain. Hegel masalah dengan pengulangan "ini" dan "sekarang" dengan demikian diperluas untuk mencakup pengulangan kasus di seluruh kesenjangan terputus antara jenis dan tingkat hal.

Dalam hubungan dekat dengan silsilah ini, Nietzsche mengkritik historisisme abad kesembilan belas dalam esai tahun 1874, "Di Menggunakan dan Kerugian dari Sejarah for Life" (Nietzsche 1983, 57-123). Pada pandangan Nietzsche, kehidupan individu dan budaya tergantung pada kemampuan mereka untuk mengulang momen tidak historis, semacam lupa, bersama dengan pembangunan berkelanjutan mereka melalui waktu, dan studi sejarah karena itu harus menekankan bagaimana setiap orang atau budaya mencapai dan mengulangi saat ini. Tidak ada pertanyaan, kemudian, untuk mencapai sudut pandang di luar sejarah atau untuk hamil masa lalu sebagai tahapan dalam perjalanan ke masa sekarang. Pengulangan sejarah tidak linear, tetapi masing-masing usia layak penunjukan mengulangi saat tidak-historis yang hadir sendiri sebagai "baru." Dalam hal ini, Nietzsche akan setuju dengan Charles Baudelaire, yang menggambarkan modernitas sebagai "transient, sekilas, yang kontingen "yang diulang di segala usia (Cahoone 2003, 100), dan postmodernis membaca pernyataan Nietzsche pada kembali abadi sesuai.

Nietzsche menyajikan konsep ini dalam The Gay Science (Nietzsche 1974, 273), dan dalam bentuk yang lebih maju di Spoke Zarathustra demikian (Nietzsche 1954, 269-272). Banyak telah mengambil konsep untuk menyiratkan sebuah pengulangan, tak berujung identik dari segala sesuatu di alam semesta, seperti tidak ada yang terjadi yang belum terjadi dalam jumlah tak terbatas kali sebelumnya. Namun, orang lain, termasuk postmodernis, membaca ayat-ayat dalam hubungannya dengan gagasan bahwa sejarah merupakan pengulangan momen tidak historis, momen yang selalu baru dalam setiap kasus. Dalam pandangan mereka, Nietzsche hanya dapat berarti bahwa mengulangi selamanya baru sebagai kekambuhan baru, dan karena itu adalah masalah perbedaan daripada identitas. Selanjutnya, postmodernis bergabung konsep kembali abadi dengan hilangnya perbedaan antara yang nyata dan dunia nyata. Perbedaan itu sendiri tidak muncul lagi, dan apa mengulangi bukanlah nyata atau jelas dalam arti tradisional, tetapi adalah sebuah khayalan atau simulacrum.

Nietzsche adalah kepentingan bersama antara filsuf postmodern dan Martin Heidegger, yang meditasi pada seni, teknologi, dan penarikan yang mereka secara teratur mengutip dan mengomentari. Kontribusi Heidegger dengan rasa de-realisasi dunia berasal dari pernyataan berulang sering seperti: "Di mana-mana kita sedang dilakukan di tengah makhluk, namun kita tidak lagi tahu bagaimana ia berdiri dengan menjadi" (Heidegger 2000, 217), dan "tepat tempat apakah manusia saat ini lebih lama lagi menghadapi dirinya sendiri, yaitu, esensi-Nya "(Heidegger 1993, 332). Heidegger melihat teknologi modern sebagai pemenuhan metafisika Barat, yang mencirikan sebagai metafisika kehadiran. Sejak zaman para filsuf awal, tetapi pasti dengan Plato, kata Heidegger, pemikiran Barat telah disusun menjadi sebagai kehadiran makhluk, yang dalam dunia modern telah datang berarti ketersediaan makhluk untuk digunakan. Bahkan, ia menulis dalam Being and Time, kehadiran makhluk cenderung menghilang ke dalam transparansi kegunaan mereka sebagai hal-siap tangan untuk-(Heidegger 1962, 95-107). Inti dari teknologi, yang ia nama "enframing itu," mengurangi keberadaan entitas pada suatu tatanan kalkulatif (Heidegger 1993, 311-341). Oleh karena itu, gunung bukan gunung tetapi suplai berdiri batubara, Rhine bukan Rhine tetapi mesin untuk hidro-listrik energi, dan manusia tidak manusia tetapi cadangan tenaga kerja. Pengalaman dunia modern, kemudian, adalah pengalaman penarikan makhluk di muka enframing dan goyangan yang selama makhluk. Namun, manusia dipengaruhi oleh penarikan ini di saat-saat kecemasan atau kebosanan, dan di situlah letak jalan untuk kembali wujud mungkin, yang akan menjadi sama saja dengan pengulangan pengalaman yang dibuka oleh Parmenides dan Heraklitus.

Heidegger melihat ini sebagai realisasi kehendak berkuasa, lain konsepsi Nietzschean, yang, siam dengan kembali abadi, merupakan kelelahan dari tradisi metafisik (Heidegger 1991a, 199-203). Untuk Heidegger, kehendak untuk berkuasa adalah kekambuhan kekal sebagai menjadi, dan keabadian adalah saat menjadi terminal dari metafisika kehadiran. Membaca ini, menjadi adalah muncul dan lenyap makhluk dalam dan di antara makhluk lain bukan sebuah munculnya dari menjadi. Jadi, bagi Heidegger, Nietzsche menandai akhir pemikiran metafisik tapi bukan bagian luar, dan karena itu Heidegger melihat dia sebagai metafisika terakhir dalam siapa terlupakan menjadi selesai (Heidegger 1991a, 204-206; 1991b, 199-203) . Harapan untuk sebuah bagian menjadi non-metafisik pemikiran terletak lebih dengan Holderlin, yang memberikan suara kepada ayat-ayat tanda-tanda yang diberikan dengan berada di penarikannya (Heidegger 1994, 115-118). Sementara postmodernis berutang banyak refleksi Heidegger pada kehadiran non-menjadi dan de-realisasi makhluk melalui enframing teknologi, mereka tajam menyimpang dari bacaannya Nietzsche.

Filsuf postmodern Banyak ditemukan dalam Heidegger sebuah nostalgia karena mereka tidak berbagi. Mereka lebih suka, sebaliknya, rasa kreativitas ceria melupakan dan lucu sebagai imbalan abadi Nietzsche sebagai pengulangan yang berbeda dan baru. Beberapa telah pergi sejauh untuk mengubah tabel pada Heidegger, dan untuk membaca renungan tentang metafisika sebagai pengulangan dari gerakan metafisik asli, pertemuan pemikiran untuk "benar" esensinya dan panggilannya (lihat Derrida 1989). Dalam pertemuan ini, yang mengikuti kelurusan dari tradisi Yunani-Kristen secara eksklusif-Jerman, sesuatu yang lebih asli daripada menjadi dilupakan, dan itu adalah perbedaan dan alteritas terhadap yang, dan dengan yang, tradisi composes sendiri. Penulis terkemuka yang terkait dengan postmodernisme telah mencatat bahwa dilupakan dan tidak termasuk "lain" dari Barat, termasuk Heidegger, dikiaskan oleh orang Yahudi (lihat Lyotard 1990, dan Lacoue-Labarthe 1990). Dengan cara ini, mereka mampu membedakan proyek-proyek mereka dari pemikiran Heidegger dan secara kritis menjelaskan keterlibatannya dengan Sosialisme Nasional dan diam tentang Holocaust, meskipun dalam hal yang tidak mengatasi kegagalan sebagai pribadi. Mereka yang mencari kecaman pribadi Heidegger atas tindakannya dan "penolakan untuk menerima tanggung jawab"-nya tidak akan menemukan mereka di komentar postmodernis. Mereka akan, bagaimanapun, menemukan banyak keberangkatan dari Heidegger pada signifikansi filosofis Nietzsche (lihat Derrida 1979), dan banyak contoh di mana ide-ide Nietzsche yang kritis terhadap diaktifkan Heidegger dan dirinya presentasi.

2. The Postmodern Condition

The "postmodern" istilah datang ke dalam leksikon filosofis dengan publikasi dari Jean-François Lyotard La Kondisi postmoderne pada tahun 1979 (bahasa Inggris: The Postmodern Condition: Laporan Pengetahuan, 1984), di mana ia mempekerjakan Model Wittgenstein permainan bahasa (lihat Wittgenstein 1953 ) dan konsep yang diambil dari teori tindak tutur untuk menjelaskan apa yang dia sebut transformasi aturan permainan untuk ilmu pengetahuan, seni, dan sastra sejak akhir abad kesembilan belas. Dia menjelaskan teks sebagai kombinasi dari dua pertandingan bahasa yang sangat berbeda, bahwa dari filsuf dan para ahli. Dimana ahli tahu apa yang dia tahu dan apa yang dia tidak tahu, filsuf tidak mengenal, tapi menimbulkan pertanyaan. Mengingat ambiguitas ini, Lyotard menyatakan bahwa perannya sebagai negara bagian pengetahuan "tidak membuat klaim untuk menjadi asli atau bahkan benar," dan bahwa hipotesis itu "tidak harus diberikan nilai prediktif dalam kaitannya dengan realitas, tetapi nilai strategis dalam kaitannya dengan pertanyaan yang muncul "(Lyotard 1984, 7). Buku ini, kemudian, adalah sebanyak percobaan pada kombinasi permainan bahasa karena merupakan tujuan "laporan."

Pada rekening Lyotard, usia komputer telah mengubah pengetahuan menjadi informasi, yaitu, kode pesan dalam sistem transmisi dan komunikasi. Analisis pengetahuan ini panggilan untuk pragmatik komunikasi sejauh ungkapan pesan, transmisi dan penerimaan, harus mengikuti aturan agar dapat diterima oleh mereka yang menghakimi mereka. Namun, seperti Lyotard menunjukkan, posisi hakim atau legislator juga merupakan posisi dalam permainan bahasa, dan ini menimbulkan pertanyaan legitimasi. Saat ia menegaskan, "ada interlinkage ketat antara jenis bahasa disebut ilmu dan jenis yang disebut etika dan politik" (Lyotard 1984, 8), dan interlinkage ini merupakan perspektif budaya Barat. Ilmu Oleh karena itu erat terjalin dengan pemerintah dan administrasi, terutama di era informasi, di mana sejumlah besar modal dan instalasi besar dibutuhkan untuk penelitian.

Poin Lyotard bahwa sementara ilmu pengetahuan telah berusaha untuk membedakan diri dari pengetahuan narasi dalam bentuk kearifan suku dikomunikasikan melalui mitos dan legenda, filsafat modern telah berusaha untuk memberikan narasi legitimasi bagi ilmu pengetahuan dalam bentuk "dialektika Roh, hermeneutika makna yang , emansipasi subyek yang rasional atau pengerjaan, atau penciptaan kekayaan, "(Lyotard 1984, xxiii). Science, bagaimanapun, memainkan permainan bahasa denotasi dengan mengesampingkan yang lainnya, dan dalam hal ini itu memindahkan pengetahuan narasi, termasuk meta-narasi filsafat. Hal ini disebabkan, sebagian, untuk apa Lyotard sebagai ciri pertumbuhan yang cepat dari teknologi dan teknik pada paruh kedua abad kedua puluh, di mana penekanan pengetahuan telah bergeser dari ujung tindakan manusia untuk kemampuannya (Lyotard 1984, 37) . Hal ini telah mengikis permainan spekulatif filsafat dan ilmu mengatur setiap bebas untuk berkembang secara mandiri landasan filosofis atau organisasi sistematis. "Saya mendefinisikan postmodern sebagai ketidakpercayaan terhadap meta-narasi," kata Lyotard (Lyotard 1984, xxiv). Akibatnya, baru, disiplin hibrida berkembang tanpa koneksi ke tradisi epistemis tua, terutama filsafat, dan ilmu ini berarti hanya memainkan permainan sendiri dan tidak bisa orang lain yang sah, seperti resep moral.

Kompartementalisasi pengetahuan dan pembubaran koherensi epistemik merupakan perhatian bagi para peneliti dan filsuf sama. Sebagai catatan Lyotard, "Menyesali 'kehilangan makna' dalam bisul postmodernitas ke berkabung fakta bahwa pengetahuan tidak lagi terutama narasi" (Lyotard 1984, 26). Memang, bagi Lyotard, de-realisasi dunia berarti disintegrasi unsur narasi menjadi "awan" kombinasi bahasa dan tabrakan antara yang tak terhitung, permainan bahasa heterogen. Selanjutnya, dalam permainan setiap subjek bergerak dari posisi ke posisi, sekarang sebagai pengirim, sekarang sebagai penerima, sekarang sebagai rujukan, dan sebagainya. Hilangnya sebuah narasi meta-kontinyu mematahkan subjek menjadi saat-saat heterogen subjektivitas yang tidak melekat ke identitas. Tapi seperti Lyotard menunjukkan, sedangkan kombinasi yang kita alami tidak selalu stabil atau menular, kita belajar untuk bergerak dengan kegesitan tertentu di antara mereka.

Kepekaan postmodern tidak meratapi hilangnya koherensi cerita lagi dari hilangnya sedang. Namun, pembubaran narasi meninggalkan bidang legitimasi dengan kriteria pemersatu baru: performativitas dari sistem pengetahuan yang memproduksi bentuk modal adalah informasi. Legitimasi performatif berarti memaksimalkan arus informasi dan meminimalkan statis (non-fungsional bergerak) dalam sistem, sehingga apa pun yang tidak bisa dikomunikasikan sebagai informasi harus dihilangkan. Kriteria performativitas mengancam apapun tidak memenuhi persyaratan, seperti narasi spekulatif, dengan de-legitimasi dan eksklusi. Namun demikian, modal juga menuntut terus-menerus penemuan kembali "baru" dalam bentuk permainan bahasa baru dan pernyataan denotatif baru, dan sebagainya, secara paradoks, sebuah paralogy tertentu diperlukan oleh sistem itu sendiri. Dalam hal ini, paradigma modern kemajuan sebagai gerakan baru di bawah aturan yang ditetapkan memberikan cara untuk paradigma postmodern menciptakan aturan baru dan mengubah permainan.

Menemukan kode baru dan membentuk kembali informasi adalah bagian besar dari produksi pengetahuan, dan ilmu pengetahuan saat inventif yang tidak mematuhi efisiensi performatif. Dengan cara yang sama, meta-prescriptives ilmu pengetahuan, aturan, itu sendiri objek dari penemuan dan eksperimen demi menghasilkan pernyataan baru. Dalam hal ini, kata Lyotard, model pengetahuan sebagai pengembangan progresif konsensus yang telah ketinggalan zaman. Bahkan, upaya untuk mengambil model konsensus hanya dapat mengulangi standar koherensi menuntut untuk efisiensi fungsional, dan mereka dengan demikian akan meminjamkan diri ke dominasi modal. Di sisi lain, temu paralogical ilmu meningkatkan kemungkinan rasa baru keadilan, serta pengetahuan, karena kami bergerak di antara permainan bahasa sekarang melibatkan kami.

  Lyotard membahas pertanyaan keadilan di Hanya Permainan (lihat Lyotard 1985) dan Differend: phrases pada Sengketa (lihat Lyotard 1988), di mana ia menggabungkan model permainan bahasa dengan divisi Kant fakultas (pemahaman, imajinasi, alasan) dan jenis penghakiman (teoritis, praktis, estetika) untuk mengeksplorasi masalah keadilan ditetapkan dalam The Postmodern Condition. Tanpa kesatuan formal subjek, fakultas dibebaskan untuk beroperasi sendiri. Dimana Kant menegaskan alasan yang harus menetapkan domain dan batas untuk fakultas lain, ketergantungan pada kesatuan subjek untuk identitas konsep sebagai hukum atau aturan de-melegitimasi otoritas yuridis dalam jaman postmodern. Sebaliknya, karena kita dihadapkan dengan pluralitas tereduksi penilaian dan "rezim frase," fakultas penghakiman itu sendiri dibawa kedepan. Kritik ketiga Kant karena itu memberikan bahan konseptual untuk analisis Lyotard, khususnya analitik penimbangan estetik (lihat Kant 1987) ..

Sebagai Lyotard berpendapat, penimbangan estetik adalah model yang sesuai untuk masalah keadilan dalam pengalaman postmodern karena kita dihadapkan dengan sejumlah permainan dan aturan tanpa konsep di mana untuk menyatukan mereka. Penghakiman oleh karena itu harus reflektif bukan menentukan. Selain itu, penilaian harus estetika sepanjang tidak menghasilkan pengetahuan tentang denotatif keadaan ditentukan urusan, tetapi mengacu pada cara fakultas kita berinteraksi satu sama lain seperti yang kita bergerak dari satu bentuk ungkapan yang lain, yaitu denotatif itu, preskriptif, yang performatif, yang politik, kognitif, seni, dll Dalam hal Kantian, interaksi ini register sebagai perasaan estetis. Dimana Kant menekankan perasaan yang indah sebagai interaksi yang harmonis antara imajinasi dan pemahaman, Lyotard menekankan modus di mana fakultas (imajinasi dan akal,) dalam ketidakharmonisan, yaitu perasaan yang sublim. Bagi Kant, yang sublim terjadi ketika fakultas kita presentasi masuk akal kewalahan oleh tayangan kekuasaan mutlak dan besarnya, dan alasan dilemparkan kembali pada kekuatan sendiri untuk hamil Gagasan (seperti hukum moral) yang melampaui dunia yang masuk akal. Untuk Lyotard, bagaimanapun, yang sublim postmodern terjadi ketika kita dipengaruhi oleh banyak unpresentables tanpa mengacu pada alasan sebagai pemersatu asal mereka. Kehakiman, kemudian, tidak akan menjadi aturan didefinisikan, tetapi kemampuan untuk bergerak dan hakim antara aturan dalam heterogenitas dan keanekaragaman. Dalam hal ini, akan lebih mirip dengan produksi seni dari penilaian moral dalam pengertian Kant.

Dalam "Apa itu Postmodernisme,?" Yang muncul sebagai lampiran untuk edisi bahasa Inggris dari The Postmodern Condition, Lyotard membahas pentingnya seni avant-garde dalam hal estetika luhur. Seni modern, katanya, adalah simbol dari sensibilitas luhur, yaitu, sensibilitas bahwa ada sesuatu yang tidak rapi menuntut untuk dimasukkan ke dalam bentuk yang masuk akal dan belum menguasai semua upaya untuk melakukannya. Tapi di mana seni modern menyajikan terpresentasikan sebagai konten hilang dalam suatu bentuk yang indah, seperti dalam Marcel Proust, seni postmodern, dicontohkan oleh James Joyce, mengedepankan terpresentasikan dengan berpantang bentuk yang indah tersebut, dengan demikian menyangkal apa yang oleh Kant akan disebut konsensus selera. Selanjutnya, kata Lyotard, pekerjaan bisa menjadi modern hanya jika pertama postmodern, untuk postmodernisme tidak modernisme di ujungnya tapi di negara baru lahir, yaitu pada saat ia mencoba untuk menyajikan terpresentasikan, "dan negara ini adalah konstan "(Lyotard 1984, 79). Postmodern, kemudian, adalah pengulangan dari modern sebagai "baru", dan ini berarti permintaan yang semakin baru untuk pengulangan lain.

3. Genealogi dan Subjektivitas

Metode Nietzschean dari silsilah, dalam penerapannya pada subjektivitas modern, adalah sisi lain dari postmodernisme filosofis. Aplikasi Michel Foucault silsilah untuk saat formatif dalam sejarah modernitas dan desakan untuk bereksperimen dengan subjektivitas menempatkan dia dalam lingkup wacana postmodern. Pada tahun 1971 esai "Nietzsche, Sejarah Genealogi,," mantra Foucault keluar adaptasinya dari metode silsilah dalam studi sejarah. Pertama dan terpenting, katanya, silsilah "menentang dirinya untuk mencari 'asal'" (Foucault 1977, 141). Artinya, penelitian silsilah kecelakaan dan kontinjensi yang berkumpul pada saat-saat penting, sehingga menimbulkan zaman baru, konsep, dan lembaga. Seperti Foucault mengatakan: "Apa yang ditemukan pada awal sejarah hal ini tidak diganggu gugat identitas asal mereka, itu adalah pertikaian hal lainnya. Ini adalah perbedaan "(Foucault 1977, 142). Dalam Nietzschean fashion, Foucault memaparkan sejarah dipahami sebagai asal mula dan perkembangan dari subjek identik, misalnya, "modernitas," sebagai wacana fiksi modern menemukan setelah fakta. Mendasari fiksi modernitas adalah rasa kesementaraan yang mengecualikan unsur-unsur kebetulan dan kontinjensi dalam bermain setiap saat. Singkatnya, linier, sejarah progresif menutupi diskontinuitas dan gangguan yang menandai poin suksesi dalam waktu sejarah.

Foucault menyebarkan silsilah untuk menciptakan apa yang ia sebut sebagai "kontra-memori" atau "transformasi sejarah ke dalam bentuk yang sama sekali berbeda dari waktu" (Foucault 1977, 160). Hal ini memerlukan melarutkan identitas bagi subyek dalam sejarah dengan menggunakan bahan dan teknik penelitian sejarah modern. Sama seperti Nietzsche mendalilkan bahwa kehendak agama untuk kebenaran dalam hasil Kristen dalam penghancuran kekristenan oleh ilmu pengetahuan (lihat Nietzsche 1974, 280-83), Foucault mendalilkan bahwa penelitian silsilah akan mengakibatkan disintegrasi subjek epistemis, sebagai kontinuitas dari subjek rusak oleh kesenjangan dan kecelakaan yang penelitian sejarah mengungkapkan. Contoh pertama dari penelitian ini adalah Histoire de la folie à l'usia classique, yang diterbitkan pada tahun 1961, diterjemahkan dalam bentuk singkat sebagai Madness and Civilization, pada tahun 1965. Di sini, Foucault memberikan penjelasan tentang awal sejarah modern sebagai alasan datang untuk mendefinisikan diri terhadap kegilaan pada abad ketujuh belas. Tesisnya adalah bahwa praktek membatasi gila adalah transformasi dari praktek abad pertengahan penderita lepra di rumah-rumah membatasi Lazar. Lembaga-lembaga ini berhasil bertahan lama setelah penderita kusta hilang, dan dengan demikian struktur kelembagaan kurungan sudah berada di tempat ketika konsep modern kegilaan sebagai penyakit terbentuk. Namun, sementara lembaga-lembaga kurungan diadakan lebih dari waktu sebelumnya, praktek membatasi gila merupakan istirahat dengan masa lalu.

Foucault memfokuskan pada saat transisi, sebagai alasan yang modern mulai terbentuk dalam pertemuan konsep, institusi, dan praktek, atau, karena ia akan berkata, pengetahuan dan kekuasaan. Dalam kelahiran nya, alasannya adalah kekuatan yang mendefinisikan dirinya melawan lain, lain yang kebenarannya dan identitas juga ditugaskan oleh akal, sehingga memberikan alasan rasa yang berasal dari dirinya sendiri. Untuk Foucault, masalah ini adalah bahwa kegilaan tidak diperbolehkan untuk berbicara sendiri dan di pembuangan daya yang mendikte syarat-syarat hubungan mereka. Sebagai beliau mengatakan: "Apa yg menciptakan adalah penggalan yang menetapkan jarak antara akal dan non-alasan; penaklukan alasan yang non-alasan, merebut dari itu kebenaran sebagai kegilaan, kriminalitas, atau penyakit, berasal eksplisit dari titik ini" (Foucault 1965, x). Kebenaran dari alasan ditemukan ketika kegilaan datang untuk berdiri di tempat non-alasan, ketika perbedaan antara mereka yang tertulis dalam oposisi mereka, tetapi tidak identik dengan sisi yang dominan. Dengan kata lain, alasan yang berdiri bertentangan dengan kegilaan tidak identik dengan alasan bahwa inscribes perbedaan mereka. Yang terakhir akan menjadi alasan tanpa lawan, kekuatan mengambang bebas tanpa bentuk yang pasti. Seperti Foucault menyarankan, misteri mengambang bebas dapat diwakili dalam kapal motif bodoh, yang, pada abad pertengahan, yang diwakili kegilaan. Itulah paradoks dari struktur transformasi sejarah.

Dalam tulisannya di kemudian hari, terutama dalam Penggunaan Kesenangan (Foucault 1985), Foucault mempekerjakan penelitian sejarah untuk membuka kemungkinan untuk bereksperimen dengan subjektivitas, dengan menunjukkan bahwa subjectivation adalah kekuatan formatif diri, melebihi struktur pengetahuan dan daya dari luar dari yang muncul. Ini adalah kekuatan pikiran, yang kata Foucault adalah kemampuan manusia untuk problematize kondisi di mana mereka tinggal. Untuk filsafat, ini berarti "usaha untuk mengetahui bagaimana dan sejauh mana ada kemungkinan untuk berpikir secara berbeda, bukan legitimasi apa yang sudah diketahui" (Foucault 1985, 9). Ia kemudian bergabung Lyotard dalam mempromosikan eksperimentasi kreatif sebagai kekuatan terkemuka pemikiran, kekuatan yang melampaui akal, sempit, dan tanpa pemikiran yang akan menjadi lembam. Dalam hal ini, Foucault berdiri di liga dengan orang lain yang mengaku sensibilitas postmodern dalam hal ilmu pengetahuan kontemporer, seni, dan masyarakat. Kami harus dicatat, juga, bahwa tulisan Foucault adalah hibrida dari filsafat dan penelitian sejarah, seperti Lyotard menggabungkan permainan bahasa dari ahli dan filsuf dalam The Postmodern Condition. Proses mencampur filosofi dengan konsep dan metode dari disiplin lain adalah karakteristik dari postmodernisme dalam arti luas.

4. Produktif Perbedaan

Konsep perbedaan sebagai mekanisme produktif, bukan negasi dari identitas, juga merupakan ciri khas dalam filsafat postmodernisme. Gilles Deleuze menyebarkan konsep ini seluruh karyanya, dimulai dengan Nietzsche dan Filsafat (1962, Inggris 1983), dimana ia memberikan Nietzsche terhadap model berpikir bekerja dalam Kant dan Hegel. Di sini, ia mengusulkan untuk berpikir terhadap alasan dalam perlawanan terhadap pernyataan Kant tentang otoritas pembenaran diri dari alasan ini saja (Deleuze 1983b, 93). Dalam ungkapan bergema oleh Foucault, ia menyatakan bahwa tujuan dari kritiknya tentang alasan "bukan pembenaran tapi dengan cara yang berbeda dari perasaan: lain sensibilitas" (Deleuze 1983b, 94). Kritik filosofis, dia menyatakan, adalah sebuah pertemuan antara pikiran dan apa yang memaksa ke dalam tindakan: itu adalah masalah kepekaan bukan hakim pengadilan alasan mana diri dengan hukum-hukumnya sendiri (lihat Kant 1964, 9). Selanjutnya, kritik nalar bukanlah sebuah metode, namun harus diraih dengan "budaya" dalam arti Nietzschean: pelatihan, disiplin, cipta, dan kekejaman tertentu (lihat Nietzsche 1967b). Karena pikiran tidak dapat mengaktifkan dirinya sebagai berpikir, Deleuze mengatakan itu harus menderita kekerasan jika ingin membangkitkan dan bergerak. Seni, ilmu pengetahuan, dan filsafat menyebarkan kekerasan tersebut sejauh mereka adalah transformatif dan eksperimental.

Terhadap Hegel, Deleuze menyatakan bahwa dialektika sementara disusun dengan negasi dan oposisi dalam identitas mengemukakan, "perbedaan prinsip hanya usul atau produksi" (Deleuze 1983b, 157). Oposisi terjadi pada bidang logis yang sama, tetapi perbedaan bergerak di pesawat dan tingkat, dan tidak hanya dalam satu arah. Selanjutnya, di mana Hegel mengambil pekerjaan negatif menjadi kekuatan dialektika mengemudi, Deleuze menyatakan perbedaan yang masuk akal hanya sebagai pengulangan berulang (seperti dalam kembali abadi Nietzsche), di mana perbedaan menegaskan dirinya dalam abadi berbeda dari dirinya sendiri. Gerakan adalah produktif, tetapi tanpa logis, negasi oposisi kebutuhan, atau. Sebaliknya, kesempatan dan keragaman yang berulang, hanya sebagai dadu-lemparan mengulang keacakan dari melempar bersama dengan setiap nomor. Di sisi lain, dialektika membatalkan kesempatan dan menegaskan pergerakan negatif sebagai bekerja dari identitas, seperti dalam Ilmu Logika dimana berada kedekatan nya yang mengemukakan sebagai sama hanya untuk dirinya sendiri (Hegel 1969, 82). Untuk Deleuze, bagaimanapun, sensibilitas memperkenalkan saat tdk sengaja ke dalam pengembangan pikiran, membuat kondisi accidentality dan kontingensi untuk berpikir. Kondisi marah identitas logis dan oposisi, dan menempatkan batas berpikir di luar sistem dialektik.

Dalam Perbedaan dan Pengulangan (1968, Inggris 1994), Deleuze mengembangkan proyeknya dalam berbagai arah. Karyanya, katanya, berasal dari konvergensi dari dua garis penelitian: konsep perbedaan tanpa negasi, dan konsep dari pengulangan, di mana pengulangan fisik dan mekanis masker untuk diferensial tersembunyi yang menyamar dan mengungsi. Fokus utamanya adalah kritik menyeluruh pemikiran representasional, termasuk identitas, oposisi, analogi, dan kemiripan (Deleuze 1994, 132). Untuk Deleuze, "rupa" tidak representasi, tetapi intensitas sensorik bebas dari identitas subjektif atau objektif (Deleuze 1994, 144). Tanpa identitas, penampilan adalah simulacra dari diferensial non-jelas dia sebut "prekursor gelap" atau "dalam-dirinya dari perbedaan" (Deleuze 1994, 119). Diferensial ini adalah makhluk yang tidak masuk akal dari yang masuk akal, makhluk tidak identik dengan sejauh masuk akal, atau untuk dirinya sendiri, tetapi tak teruraikan bermasalah karena memaksa kita untuk menghadapi masuk akal sebagai "diberikan."

Selanjutnya, setiap gerakan melawan pemikiran representasional impinges pada identitas subjek. Dimana Kant mendirikan kesatuan representasi ruang dan waktu pada kesatuan formal kesadaran (Kant 1964, 135-137), perbedaan kembali mendistribusikan intuisi dari masa lalu masa depan, sekarang, dan, patah kesadaran ke beberapa negara tidak predicable dari subjek tunggal. Kualitas Intensif individuating sendiri, kata Deleuze, dan individualitas tidak karakteristik dari suatu diri atau ego, tetapi dari diferensial selamanya membagi diri sendiri dan mengubah konfigurasinya (Deleuze 1994, 246, 254, 257). Dengan cara Nietzschean, "Aku" tidak merujuk kepada kesatuan kesadaran, tetapi untuk banyak simulacra tanpa subjek identik untuk siapa ini banyak muncul. Sebaliknya, mata pelajaran timbul dan berkembang biak sebagai "efek" dari ruang menjenuhkan kualitas intensif dan waktu. Hal ini menyebabkan Deleuze untuk mendalilkan beberapa fakultas untuk subjektivitas, yang berkorelasi dari yang masuk akal sejauh yang menimbulkan perasaan, pikiran, dan tindakan. "Setiap fakultas, termasuk pikiran, hanya memiliki petualangan paksa," katanya, dan "operasi paksa tetap melekat dalam empiris" (Deleuze 1994, 145). Subyektif, paradoks diferensial memecah fungsi umum fakultas-fakultas dan menempatkan mereka sebelum batas mereka sendiri: berpikir sebelum terpikirkan, memori sebelum sensibilitas yang dahulu, sebelum tak terlihat, dll (Deleuze 1994, 227). Ini patah dan mengalikan subjek, ia mencatat, mengarah ke kesadaran bahwa "skizofrenia tidak hanya fakta manusia tetapi juga kemungkinan untuk berpikir" (Deleuze 1994, 148), sehingga memperluas istilah ke dalam konsep filosofis, di luar klinis aplikasi.

Pembubaran subjek dan implikasinya bagi masyarakat adalah tema Anti-Oedipus: Kapitalisme dan Skizofrenia, yang Deleuze diterbitkan dengan Félix Guattari di 1972 (Inggris 1983). Buku ini, sebagian besar, ditulis melawan ortodoksi intelektual mapan Kiri politik di Perancis selama tahun 1950 dan 1960-an, sebuah ortodoksi yang terdiri dari Marx, Freud, dan konsep strukturalis diterapkan kepada mereka oleh Louis Althusser dan Jacques Lacan. Deleuze dan Guattari berpendapat bahwa campuran ini masih terbatas oleh pemikiran representasional, termasuk konsep produksi berdasarkan kekurangan, dan konsep keterasingan berdasarkan identitas dan negasi. Selanjutnya, konsep Oedipus dalam psikoanalisis, mereka mengatakan, lembaga teater keinginan dalam jiwa yang tertanam dalam drama keluarga tertutup dari pasukan ekstra-keluarga dan ekstra-psikis di tempat kerja dalam masyarakat. Mereka mencirikan kekuatan-kekuatan ini sebagai "mesin mendambakan" yang berfungsi untuk menghubungkan, memutuskan, dan berhubungan kembali dengan satu sama lain tanpa arti atau tujuan.

   Para penulis menggambarkan masyarakat sebagai serangkaian "territorializations" atau prasasti pada "tubuh tanpa organ", atau masalah mengalir bebas kualitas intensif memenuhi ruang pada derajat mereka yang bervariasi. Prasasti pertama adalah hubungan kekerabatan dan filiasi penataan masyarakat primitif, sering melibatkan menandai dan parut pada tubuh manusia. Sebagai gangguan dan encoding dari "arus," prasasti primitif merupakan perhubungan menginginkan mesin, baik teknis maupun sosial, yang unsur-unsurnya adalah manusia dan organ mereka. Tubuh penuh masyarakat adalah bumi suci, yang appropriates pada dirinya sendiri semua produk sosial sebagai prasyarat mereka alami atau ilahi, dan kepada siapa semua anggota masyarakat terikat oleh filiasi langsung (Deleuze 1983b, 141-42). Ini tulisan pertama ini kemudian de-territorialized dan kembali kode oleh "mesin despotik," membangun hubungan baru dan aliansi filiasi melalui tubuh penguasa atau kaisar, yang sendirian berdiri di filiasi langsung ke dewa (Deleuze 1983b, 192) dan siapa lembaga mekanisme negara atas sudah ada pengaturan sosial. Akhirnya, kapitalisme de-territorializes prasasti dari mesin despotik dan re-kode dari semua hubungan aliansi dan filiasi ke arus uang (Deleuze 1983b, 224-27). Organ masyarakat dan negara yang dialokasikan ke fungsi modal, dan manusia menjadi sekunder terhadap filiasi uang dengan dirinya sendiri.

Deleuze dan Guattari melihat dalam sistem kapitalis uang "sebuah aksioma dalam jumlah abstrak yang terus bergerak semakin jauh ke arah yang deterritorialization dari socius" (Deleuze 1983a, 33), yang berarti modal yang secara inheren skizofrenia. Namun, karena modal juga kembali territorializes semua mengalir ke uang, skizofrenia tetap batas eksternal kapitalisme. Namun demikian, justru yang membatasi melawan pemikiran yang dapat dikenakan kapitalisme untuk kritik filosofis. Psikoanalisis, kata mereka, adalah bagian dari pemerintahan karena modal kembali territorializes subjek sebagai "pribadi" dan "individu," melembagakan identitas psikis melalui gambar dari keluarga Oedipus. Namun, segitiga Oedipus hanyalah simulakrum representasional kekerabatan dan filiasi, kembali kode dalam sistem utang dan pembayaran. Dalam sistem ini, mereka bersikeras, mengalir dari keinginan telah menjadi representasi dari keinginan belaka, terputus dari tubuh tanpa organ dan ekstra-keluarga mekanisme masyarakat. Sebuah kritik radikal modal karenanya tidak dapat dicapai dengan psikoanalisis, tetapi membutuhkan schizoanalysis "untuk membatalkan teater perwakilan ke urutan mendambakan-produksi" (Deleuze 1983b, 271). Di sini, penulis melihat potensi revolusioner dalam seni modern dan ilmu pengetahuan, di mana, dalam membawa tentang "baru," beredar mereka de-kode dan de-territorialized arus dalam masyarakat tanpa otomatis kembali coding mereka menjadi uang (Deleuze 1983a, 379) . Dalam aspek revolusioner, Anti-Oedipus berbunyi sebagai pernyataan keinginan yang turun ke jalan-jalan di Paris pada Mei 1968, dan yang terus berlanjut, bahkan sekarang, untuk membuat dirinya merasa dalam kehidupan intelektual.

5. Dekonstruksi

Istilah "dekonstruksi", seperti "postmodernisme", telah diambil pada banyak arti dalam imajinasi populer. Namun, dalam filsafat, itu menandakan strategi tertentu untuk membaca dan menulis teks. Istilah ini diperkenalkan ke dalam literatur filosofis pada tahun 1967, dengan penerbitan tiga teks oleh Jacques Derrida: Tentu Grammatology (Inggris 1974), Menulis dan Perbedaan (Inggris 1978), dan Pidato dan Fenomena (Inggris 1973). Ini disebut "blitz publikasi" segera didirikan Derrida sebagai tokoh utama dalam gerakan baru dalam filsafat dan ilmu-ilmu manusia berpusat di Paris, dan membawa idiom "dekonstruksi" ke dalam kosa kata. Derrida dan dekonstruksi secara rutin terkait dengan postmodernisme, meskipun seperti Deleuze dan Foucault, ia tidak menggunakan istilah ini dan akan menolak afiliasi dengan "-isme" dari apapun. Dari tiga buku dari 1967, Of Grammatology adalah lebih komprehensif dalam menata latar belakang untuk dekonstruksi sebagai cara membaca teori-teori modern bahasa, terutama strukturalisme, dan meditasi Heidegger pada kehadiran non-sedang. Hal ini juga menetapkan perbedaan Derrida dengan Heidegger lebih Nietzsche. Dimana Heidegger menempatkan Nietzsche dalam metafisika kehadiran, Derrida menegaskan bahwa "membaca, dan karena itu menulis, teks itu dipakai untuk 'originary' Nietzsche operasi," (Derrida 1974, 19), dan ini menempatkan dia di penutupan metafisika (bukan akhir), penutupan yang membebaskan menulis dari logo tradisional, yang Dibutuhkan menulis untuk menjadi tanda (tanda terlihat) untuk tanda lain (pidato), yang "ditandai" adalah makna sepenuhnya hadir.

Penutupan ini telah muncul, kata Derrida, dengan perkembangan terbaru dalam linguistik, ilmu-ilmu manusia, matematika, dan cybernetics, dimana tanda tertulis atau penanda adalah murni teknis, yaitu, soal fungsi dan bukan makna. Justru pembebasan fungsi lebih berarti menunjukkan bahwa zaman apa Heidegger menyebut metafisika kehadiran telah datang untuk penutupan, meskipun penutupan ini tidak berarti selesainya. Sama seperti dalam esai "Di Pertanyaan Menjadi" (Heidegger 1998, 291-322) Heidegger melihat cocok untuk mencoret kata "sedang", meninggalkannya tampak, namun, di bawah tanda, Derrida mengambil penutupan metafisika menjadi "penghapusan," yang mana tidak sepenuhnya hilang, tetapi tetap ditulis sebagai salah satu sisi perbedaan, dan di mana tanda penghapusan itu sendiri merupakan jejak dari perbedaan yang menghubungkan dan memisahkan tanda ini dan apa yang melintasi keluar. Derrida menyebutnya bergabung dan memisahkan tanda differance (Derrida 1974, 23), sebuah perangkat yang hanya bisa dibaca dan tidak mendengar ketika differance dan perbedaan diucapkan dalam bahasa Prancis. "A" adalah merek tertulis yang membedakan secara independen dari suara, media istimewa metafisika. Dalam pengertian ini, differance sebagai jarak perbedaan, sebagai arsitek-menulis, akan menjadi gram gramatologi. Namun, seperti Derrida mengatakan: "Tidak bisa menjadi ilmu perbedaan dirinya dalam operasinya, karena tidak mungkin untuk memiliki ilmu tentang asal-usul keberadaan itu sendiri, artinya dari asal non-tertentu" (Derrida 1974, 63 ). Sebaliknya, hanya ada penandaan jejak perbedaan, yaitu, dekonstruksi.

Karena pada tingkat fungsional semua bahasa adalah suatu sistem perbedaan, kata Derrida, bahasa semua, bahkan ketika berbicara, menulis, dan kebenaran ini ditekan ketika arti diambil sebagai asal, sekarang dan lengkap tersendiri. Teks-teks yang mengambil makna atau menjadi sebagai tema mereka karena itu sangat rentan terhadap dekonstruksi, seperti juga semua teks-teks lain sejauh mereka disatukan dengan ini. Untuk Derrida, tanda tertulis atau penanda tidak mengatur diri dalam batas-batas alam, tetapi rantai bentuk signifikasi yang memancar ke segala arah. Sebagai Derrida terkenal berkomentar, "tidak ada di luar teks" (Derrida 1974, 158), yaitu, teks mencakup perbedaan antara "dalam" atau teks A "di luar.", Maka, bukan buku, dan melakukan tidak, tegasnya, memiliki seorang penulis. Sebaliknya, nama penulis adalah penanda terkait dengan orang lain, dan tidak ada penanda master (seperti lingga di Lacan) yang ada atau bahkan tidak ada dalam teks. Ini berlaku untuk "differance" istilah juga, yang hanya dapat berfungsi sebagai suplemen untuk jarak produktif antara tanda-tanda. Oleh karena itu, Derrida menegaskan bahwa "differance secara harfiah bukan sebuah kata atau konsep" (Derrida 1982, 3). Sebaliknya, hanya dapat ditandai sebagai sebuah drama mengembara perbedaan yang bersifat jarak penanda dalam hubungannya satu sama lain dan penundaan makna atau kehadiran ketika mereka membaca.

Bagaimana, kemudian, dapat differance ditandai? Derrida menolak untuk menjawab pertanyaan tentang "siapa" atau "apa" berbeda, karena untuk melakukannya akan menyarankan ada nama yang tepat untuk perbedaan, bukan suplemen tak berujung, yang "differance" hanyalah salah satu. Secara struktural, ini fungsi tambahan seperti perpindahan, bagi Heidegger, semua nama karena mengurangi yang untuk keberadaan makhluk, sehingga mengabaikan "perbedaan ontologis" di antara mereka. Namun, Derrida mengambil perbedaan ontologis sebagai salah satu perbedaan antara lain sebagai produk dari apa idiom "differance" suplemen. Sebagai beliau mengatakan: "differance, dengan cara tertentu dan sangat aneh, (adalah) 'tua' dari perbedaan ontologis atau dari kebenaran Menjadi" (Derrida 1982, 22). Dekonstruksi, kemudian, menelusuri pengulangan suplemen. Hal ini tidak begitu banyak teori tentang teks sebagai praktik membaca dan mengubah teks, di mana menelusuri pergerakan differance memproduksi teks-teks lain terjalin dengan yang pertama. Meskipun ada kesewenang-wenangan tertentu dalam permainan perbedaan yang dihasilkan, tidak kesewenang-wenangan pembaca mendapatkan teks yang berarti apapun yang dia inginkan. Ini adalah pertanyaan tentang fungsi daripada makna, jika makna dipahami sebagai kehadiran terminal, dan koneksi menandakan ditelusuri dalam dekonstruksi yang pertama kali ditawarkan oleh teks itu sendiri. Pembacaan dekonstruktif, maka, tidak menegaskan atau memaksakan makna, tetapi tanda keluar tempat di mana fungsi dari teks bekerja terhadap makna yang tampak jelas, atau terhadap sejarah interpretasinya.

6. Hiperrealitas

Hiperrealitas terkait erat dengan konsep simulakrum: salinan atau gambar tanpa merujuk pada sumber asli. Dalam postmodernisme, hiperrealitas adalah hasil dari mediasi teknologi pengalaman, dimana apa yang diterima untuk realitas adalah jaringan dari gambar dan tanda-tanda tanpa rujukan eksternal, seperti bahwa apa yang diwakili adalah representasi itu sendiri. Di Bursa simbolik dan Kematian (1976) (Inggris 1993), Jean Baudrillard menggunakan konsep Lacan dari simbolis, imajiner, dan nyata untuk mengembangkan konsep ini saat menyerang ortodoksi Kiri politik, dimulai dengan realitas diasumsikan kekuasaan, produksi, keinginan, masyarakat, dan legitimasi politik. Baudrillard berpendapat bahwa semua realitas telah menjadi simulasi, yaitu, tanda-tanda tanpa rujukan apapun, karena yang nyata dan imajiner telah diserap ke dalam simbolis.

Baudrillard menyajikan hiperrealitas sebagai tahap terminal simulasi, di mana tanda atau gambar tidak ada hubungannya dengan setiap kenyataan apapun, tetapi adalah "simulacrum sendiri yang murni" (Baudrillard 1994, 6). Nyata, katanya, telah menjadi efek operasional proses simbolik, seperti gambar yang dihasilkan teknologi dan kode sebelum kita benar-benar melihat mereka. Ini berarti mediasi teknologi telah merebut peran produktif dari subjek Kantian, lokus dari sintesis asli konsep dan intuisi, serta pekerja Marxis, produsen modal meskipun tenaga kerja, dan ketidaksadaran Freud, mekanisme represi dan keinginan . "Mulai sekarang," kata Baudrillard, "tanda-tanda dipertukarkan satu sama lain daripada terhadap nyata" (Baudrillard 1993, 7), sehingga produksi sekarang berarti tanda-tanda memproduksi tanda-tanda lain. Sistem pertukaran simbolis karena itu tidak lagi nyata tetapi "HyperReal." Di mana sebenarnya adalah "bahwa dari mana dimungkinkan untuk memberikan reproduksi setara," kata HyperReal, kata Baudrillard, adalah "sesuatu yang selalu sudah direproduksi" (Baudrillard 1993, 73). HyperReal adalah sistem simulasi simulasi itu sendiri.

 Pelajaran Baudrillard menarik dari peristiwa Mei 1968 adalah bahwa gerakan mahasiswa diprovokasi oleh kesadaran bahwa "kami tidak lagi produktif" (Baudrillard 1993, 29), dan bahwa oposisi langsung dalam sistem komunikasi dan pertukaran hanya mereproduksi mekanisme dari sistem itu sendiri. Secara strategis, katanya, modal hanya dapat dikalahkan dengan memperkenalkan sesuatu inexchangeable ke dalam tatanan simbolik, yaitu, sesuatu yang memiliki fungsi ireversibel kematian alami, yang tidak termasuk tatanan simbolik dan membuat tak terlihat. Sistem ini, ia menunjukkan, mensimulasikan kematian alami dengan gambar menarik dari kematian kekerasan dan bencana, di mana kematian merupakan hasil proses buatan dan Namun, seperti Baudrillard pernyataan "kecelakaan.": "Hanya kematian-fungsi tidak dapat diprogram dan dilokalisasi" (Baudrillard 1993, 126), dan dengan ini ia berarti kematian sebagai finalitas sederhana dan tidak dapat diubah kehidupan. Karena itu ia menyerukan pengembangan "strategi fatal" untuk membuat sistem mengalami pembalikan dan kehancuran.

Karena strategi ini harus dilakukan dalam tatanan simbolik, mereka adalah masalah retorika dan seni, atau hibrida dari keduanya. Mereka juga berfungsi sebagai hadiah atau pengorbanan, yang sistem tidak memiliki kontra-langkah atau ekivalen. Baudrillard menemukan contoh utama dari strategi ini dengan seniman grafiti yang bereksperimen dengan tanda-tanda dan kode simbolik untuk menunjukkan komunikasi sementara memblokir, dan yang menandatangani prasasti mereka dengan nama samaran bukan nama dikenali. "Mereka mencari tidak untuk melarikan diri dari combinatory untuk mendapatkan kembali identitas," kata Baudrillard, "tapi untuk mengubah ketidakpastian terhadap sistem, untuk mengubah ketidakpastian menjadi pemusnahan" (Baudrillard 1993, 78). Beberapa pernyataan sendiri, seperti "Saya tidak ada hubungannya dengan postmodernisme," miliki, tidak diragukan lagi, maksud strategis yang sama. Sampai-sampai "postmodernisme" telah menjadi tanda tukar tanda-tanda lain, ia memang ingin tidak ada hubungannya dengan itu. Namun demikian, konsep tentang simulasi dan hiperrealitas, dan seruannya untuk eksperimen strategis dengan tanda-tanda dan kode, membawa dia ke dalam jarak dekat dengan tokoh-tokoh seperti Lyotard, Foucault, dan Derrida.

7. Hermeneutika Postmodern

Hermeneutika, ilmu penafsiran tekstual, juga memainkan peran dalam filsafat postmodern. Tidak seperti dekonstruksi, yang berfokus pada struktur fungsional sebuah teks, hermeneutika berusaha untuk sampai pada kesepakatan atau konsensus mengenai apa teks berarti, atau akan. Gianni Vattimo merumuskan hermeneutika postmodern dalam The End of Modernity (Inggris 1988), di mana ia membedakan dirinya dari rekan-rekan Paris-nya dengan mengajukan pertanyaan pasca-modernitas sebagai masalah untuk hermeneutika ontologis. Alih-alih menyerukan eksperimen dengan kontra-strategi dan struktur fungsional, ia melihat heterogenitas dan keanekaragaman dalam pengalaman kita tentang dunia sebagai masalah hermeneutis yang harus diselesaikan dengan mengembangkan rasa kontinuitas antara masa sekarang dan masa lalu. Kontinuitas ini adalah menjadi kesatuan yang berarti bukan pengulangan dari struktur fungsional, dan artinya adalah ontologis. Dalam hal ini, proyek Vattimo adalah perpanjangan dari pertanyaan Heidegger menjadi makna menjadi. Namun, di mana Heidegger terletak dengan Nietzsche dalam batas metafisika, Vattimo bergabung hermeneutika ontologis Heidegger dengan usaha Nietzsche untuk berpikir di luar nihilisme dan historisisme dengan konsepnya pengembalian kekal. Hasilnya, kata Vattimo, adalah penyimpangan tertentu dari membaca Heidegger Nietzsche, yang memungkinkan Heidegger dan Nietzsche harus ditafsirkan melalui satu sama lain (Vattimo 1988, 176). Ini adalah titik penting dari perbedaan antara Vattimo dan postmodernis Prancis, yang membaca Nietzsche terhadap Heidegger, dan lebih memilih strategi tekstual Nietzsche lebih mengejar Heidegger tentang makna keberadaan.

Oleh sebab itu Vattimo, Nietzsche dan Heidegger dapat dibawa bersama di bawah tema umum untuk mengatasi. Dimana Nietzsche mengumumkan mengatasi nihilisme melalui nihilisme aktif kembali abadi, Heidegger mengusulkan untuk mengatasi metafisika melalui pengalaman non-metafisik menjadi. Dalam kedua kasus, menurutnya, apa yang harus diatasi adalah modernitas, yang ditandai dengan gambar yang filsafat dan ilmu pengetahuan adalah perkembangan progresif di mana berpikir dan asal-usul pengetahuan mereka semakin tepat dan yayasan sendiri. Mengatasi modernitas, bagaimanapun, tidak dapat berarti maju ke fase sejarah baru. Sebagai Vattimo mengamati: "Kedua filsuf menemukan diri mereka wajib, di satu sisi, untuk mengambil jarak kritis dari Barat berpikir sejauh yang merupakan dasar, di sisi lain, bagaimanapun, mereka menemukan diri mereka tidak mampu mengkritik pemikiran Barat atas nama lain, dan lebih benar, yayasan "(Vattimo 1988, 2). Mengatasi modernitas karena itu harus berarti Verwindung, dalam arti memutar atau mendistorsi modernitas itu sendiri, bukan Überwindung atau perkembangan di luar itu.

Sementara Vattimo mengambil pasca-modernitas sebagai gilirannya baru dalam modernitas, itu memerlukan pembubaran kategori baru dalam arti sejarah, yang berarti akhir sejarah universal. "Sementara gagasan kesejarahan telah menjadi lebih bermasalah untuk teori," katanya, "pada saat yang sama untuk historiografi dan metodologinya sendiri kesadaran diri gagasan sejarah sebagai proses kesatuan dengan cepat melarutkan" (Vattimo 1988, 6) . Ini tidak berarti perubahan sejarah tidak lagi terjadi, tetapi bahwa pembangunan kesatuan yang tidak lagi dibayangkan, sehingga hanya sejarah lokal yang mungkin. De-historicization pengalaman telah dipercepat oleh teknologi, terutama televisi, kata Vattimo, sehingga "segala sesuatu cenderung untuk meratakan di tingkat contemporaneity dan keserentakan" (Vattimo 1988, 10). Akibatnya, kita tidak lagi mengalami rasa yang kuat teleologi dalam kegiatan duniawi, tetapi, sebaliknya, kita dihadapkan dengan bermacam-macam perbedaan dan teleologies parsial yang hanya dapat dinilai estetis. Kebenaran dari pengalaman postmodern karena itu paling baik diwujudkan dalam seni dan retorika.

Rasa Nietzschean mengatasi modernitas adalah "untuk membubarkan modernitas melalui radikalisasi kecenderungan bawaan sendiri," kata Vattimo (Vattimo 1988, 166). Ini termasuk produksi "yang baru" sebagai nilai dan drive untuk mengatasi kritis dalam arti yayasan apropriasi dan asal usul. Dalam hal ini, bagaimanapun, Nietzsche menunjukkan hasil bahwa dalam modernitas nihilisme: semua nilai, termasuk "kebenaran" dan "baru," runtuh di bawah perampasan kritis. Cara keluar dari keruntuhan ini adalah saat kekambuhan kekal, ketika kita menegaskan perlunya kesalahan dengan tidak adanya yayasan. Vattimo juga menemukan sikap baru terhadap modernitas dalam pengertian Heidegger metafisika mengatasi, sepanjang ia menyarankan bahwa mengatasi enframing terletak pada kemungkinan giliran dalam enframing itu sendiri. Seperti giliran berarti pendalaman dan mendistorsi esensi teknologi, tidak merusaknya atau meninggalkannya di belakang. Selanjutnya, ini akan menjadi makna menjadi, yang dipahami sebagai sejarah penafsiran (sebagai "lemah" menjadi) bukan suatu kebenaran landasan, dan hermeneutika menjadi akan menjadi historisisme terdistorsi. Tidak seperti hermeneutika tradisional, Vattimo berpendapat bahwa merekonstruksi kelangsungan pengalaman kontemporer tidak dapat dicapai tanpa seni pemersatu dan retorika dengan informasi dari ilmu-ilmu, dan hal ini membutuhkan filsafat "untuk mengusulkan sebuah 'retoris persuasif', unified melihat dunia, yang mencakup dalam dirinya sendiri jejak, residu, atau elemen yang terisolasi dari pengetahuan ilmiah "(Vattimo 1988, 179). Filsafat Vattimo adalah karena itu proyek dari hermeneutika postmodern, berbeda dengan para pemikir Paris yang tidak menyibukkan diri dengan makna atau sejarah sebagai kesatuan yang berkesinambungan.

8. Postmodern Retorika dan Estetika

Retorika dan estetika berkaitan dengan berbagi pengalaman melalui kegiatan partisipasi dan imitasi. Dalam arti postmodern, kegiatan tersebut melibatkan berbagi atau berpartisipasi dalam perbedaan-perbedaan yang telah dibuka antara yang lama dan yang baru, alam dan buatan, atau bahkan antara hidup dan mati. Eksponen terkemuka alur pemikiran postmodern adalah Mario Perniola. Seperti Vattimo, Perniola menegaskan bahwa filsafat postmodern tidak harus memutuskan hubungan dengan warisan modernitas dalam sains dan politik. Saat ia mengatakan dalam Enigmas, "hubungan antara pemikiran dan kenyataan bahwa Pencerahan, idealisme, dan Marxisme telah diwujudkan tidak harus patah" (Perniola 1995, 43). Namun, dia tidak mendasarkan kelangsungan ini pada esensi internal, roh, atau makna, tetapi pada efek berkelanjutan dari modernitas di dunia. Salah satu efek tersebut, terlihat dalam seni dan dalam hubungan antara seni dan masyarakat, adalah runtuhnya masa lalu dan masa depan ke masa kini, yang mencirikan sebagai "Mesir" atau "barok" di alam. Ini efek temporal dilakukan melalui runtuhnya perbedaan antara manusia dan makhluk, di mana "manusia menjadi lebih mirip dengan sesuatu, dan sama-sama, dunia anorganik, berkat teknologi elektronik, tampaknya akan mengambil alih peran manusia dalam persepsi peristiwa "(Perniola 1995, viii). Jumlah ini semacam "Egyptianism," seperti yang dijelaskan oleh Hegel dalam Estetika nya (lihat Hegel 1975, 347-361), dimana rohani dan alami dicampur sedemikian rupa bahwa mereka tidak dapat dipisahkan, seperti, misalnya, dalam sosok Sphinx. Namun, dalam dunia postmodern anorganik tidak alami, tetapi sudah buatan, sejauh persepsi kita dimediasi oleh operasi teknologi.

Demikian juga, kata Perniola, seni koleksi di museum modern yang menghasilkan "efek barok," dimanakah "Bidang yang dibuka oleh koleksi tidak bahwa opini publik yang dibudidayakan, atau partisipasi sosial, tetapi ruang yang menarik justru karena tidak bisa menjadi dikuasai atau dimiliki "(Perniola 1995, 87). Artinya, dalam koleksi, seni akan dihapus dari konteksnya alam atau sejarah dan menciptakan rasa baru dari ruang dan waktu, tidak dapat direduksi menjadi sejarah linier atau arti asal. Pengumpulan, kemudian, adalah simbol dari masyarakat postmodern, momen yang Selanjutnya "kebenaran.", Perniola menegaskan bahwa sensibilitas barok adalah karakteristik dari masyarakat Italia dan budaya pada umumnya. "Gagasan tentang kebenaran sebagai sesuatu yang pada dasarnya telanjang," katanya, "adalah berselisih dengan ide Baroque, sehingga berakar kuat di Italia, kebenaran itu adalah sesuatu yang pada dasarnya berpakaian" (Perniola 1995, 145). Hal ini terkait dengan sensibilitas yang menengah antara perasaan internal dan hal-hal eksternal. "The enigma Italia," katanya, "terletak pada kenyataan bahwa komponen manusia dilengkapi dengan emosionalitas eksternal yang bukan milik dia intim, tetapi di mana mereka tetap berpartisipasi" (Perniola 1995, 145). Untuk menjelaskan pengalaman misterius, filsuf harus menjadi "perantara, bagian itu, transit untuk sesuatu yang berbeda dan asing" (Perniola 1995, 40). Oleh karena itu, membaca tulisan filosofis dan bukan kegiatan subjek identik, tetapi proses mediasi dan ketidakpastian antara narasi diri dan lainnya, dan filsafat adalah mengatasi perbedaan mereka.

Perbedaan-perbedaan ini tidak dapat diatasi, dengan cara Hegel, dengan membatalkan mereka di bawah sebuah sintesis tingkat tinggi, tetapi harus terkikis atau dirusak dalam perjalanan melintasi mereka. Dalam Berpikir Ritual, Perniola menggambarkan proses ini melalui konsep transit, simulacrum, dan ritual tanpa mitos. Transit berasal dari rasa simultanitas masa kini, di mana kita tersuspensi dalam keadaan ketidakpastian dan kesementaraan, dan bergerak "dari yang sama untuk sama"; simulakrum adalah hasil dari sebuah mimesis tak berujung yang ada hanya salinan salinan tanpa merujuk pada sumber asli, dan ritual tanpa mitos adalah pengulangan pola-pola tindakan harus ada koneksi untuk kehidupan batin subjek atau masyarakat. Jadi Perniola melihat interaksi sosial dan politik sebagai pola berulang dari tindakan yang tidak memiliki makna yang melekat tetapi merupakan, namun, sebuah dunia di mana perantara oposisi, terutama hidup dan mati, diatasi dalam gerakan untuk bolak-balik dalam ruang mereka perbedaan.

Untuk menggambarkan konsep-konsep Perniola mengacu pada praktik yang terkait dengan Romanisme, agama terutama Romawi. "Ritual tanpa mitos," katanya, "adalah esensi agama Katolik" (Perniola 2001, 81). Ini adalah bagian antara hidup dan mati melalui simulasi bersama mereka, misalnya, dalam gerakan labirin dari ritual yang dikenal sebagai lusus troiae. Gerakan-gerakan ini, katanya, memediasi antara hidup dan mati dengan membalik pola mereka dari suksesi alami, dan menengahi perbedaan mereka melalui tindakan yang tidak memiliki arti intrinsik. Tidak seperti proyek Vattimo tentang membangun makna untuk mengatasi perbedaan sejarah, konsep Perniola yang transit ke ruang perbedaan adalah salah satu "seni" dalam arti kecerdasan atau teknik, dan tidak ditujukan pada sintesis atau penyatuan menentang elemen. Dalam hal ini, Perniola memiliki afinitas dengan postmodernis Prancis, yang menekankan pengulangan fungsional selama penciptaan makna. Namun, seperti gagasan Perniola dari ritual tanpa mitos menggambarkan, pengulangan fungsional dari interaksi sosial dan teknologi tidak menyebarkan perbedaan, tetapi menghapuskan mereka. Ini jelas dalam laporannya tentang perjalanan ritual antara hidup dan mati, dibandingkan dengan Baudrillard, yang menyebut untuk strategi memperkenalkan ireversibilitas kematian ke dalam sistem pertukaran simbolis. Dalam hal ini, postmodernisme Perniola adalah sangat estetika, dan tetap, dengan Vattimo, dalam dimensi estetika dan sejarah pengalaman.

9. Habermas Kritik

Para kritikus yang paling menonjol dan komprehensif postmodernisme filosofis adalah Jürgen Habermas. Dalam Wacana Filosofis Modernitas (Habermas 1987), ia menghadapi postmodernisme di tingkat masyarakat dan Dia tidak membela konsep subjek, dipahami sebagai kesadaran atau diri yang otonom, terhadap serangan postmodernis '"tindakan komunikatif.", Tapi membela argumentatif alasan antar-subjektif terhadap komunikasi eksperimental mereka, avant-garde strategi. Misalnya, ia mengklaim bahwa Nietzsche, Heidegger, Derrida dan Foucault melakukan kontradiksi performatif dalam kritik mereka terhadap modernisme dengan menggunakan konsep dan metode yang hanya alasan modern dapat menyediakan. Dia mengkritik Dionysianism Nietzsche sebagai isyarat kompensasi terhadap hilangnya kesatuan dalam budaya Barat bahwa, dalam pra-modern kali, diberikan oleh agama. Pengertian Nietzsche dari Dionysus baru dalam seni modern, apalagi, ini didasarkan pada sebuah modernisme estetika di mana seni meraih kekuasaan eksperimen dengan memisahkan diri dari nilai-nilai ilmu pengetahuan dan moralitas, pemisahan dilakukan dengan Pencerahan modern, mengakibatkan hilangnya organik kesatuan Nietzsche berusaha untuk mengembalikan melalui seni itu sendiri (lihat Habermas 1987, 81-105). Habermas melihat Heidegger dan Derrida sebagai penerus Heidegger ini, misalnya, mengantisipasi pengalaman baru menjadi, yang mengundurkan diri "mesianisme Dionysian.". Namun, kata Habermas, penarikan yang merupakan hasil dari sebuah filosofi terbalik dari subjek, dimana kehancuran Heidegger subjek mengarah pada harapan untuk kesatuan akan datang, kesatuan tidak lain dari subjek yang sekarang hilang (Habermas 1987 , 160). Derrida, katanya, mengembangkan gagasan differance atau "arsitek-menulis" dalam cara yang sama: di sini, kita melihat dewa Dionysus mengungkapkan dirinya sekali lagi tidak hadir, karena berarti tak terhingga tangguhan (Habermas 1987, 180-81).

Habermas juga mengkritik Derrida untuk meratakan perbedaan antara filsafat dan sastra dalam textualism yang membawa logika dan alasan argumentatif ke dalam domain retorika. Dengan cara ini, katanya, Derrida berharap untuk menghindari masalah logis dari diri-referensi dalam kritiknya tentang alasan. Namun, seperti Habermas mengatakan: "Barangsiapa Transpos kritik radikal dari alasan ke dalam domain retorika untuk menumpulkan paradoks diri referentiality, juga menumpulkan pedang kritik nalar itu sendiri" (Habermas 1987, 210). Dalam cara yang sama, ia mengkritik Foucault untuk tidak menundukkan metode sendiri silsilah untuk unmasking silsilah, yang akan mengungkapkan Foucault instalasi ulang dari subjek modern yang mampu secara kritis memandang sejarahnya sendiri. Dengan demikian, katanya, "Foucault tidak dapat secara memadai menangani masalah gigih yang muncul sehubungan dengan pendekatan interpretif ke domain objek, penyangkalan diri referensial klaim validitas universal, dan pembenaran normatif kritik" (Habermas 1987, 286 ).

Kritik Habermas postmodernisme atas dasar kontradiksi performatif dan paradoks referensi diri menetapkan nada dan istilah untuk banyak perdebatan kritis saat ini sedang berjalan. Sementara postmodernis menolak kritik-kritik, atau menanggapi mereka dengan retorika kontra-strategi. Lyotard, misalnya, menolak gagasan bahwa komunikasi intersubjektif menyiratkan satu set aturan sudah disepakati, dan bahwa konsensus universal adalah tujuan akhir dari wacana (lihat Lyotard 1984, 65-66). Itu postmodernis secara terbuka menanggapi Habermas adalah karena fakta bahwa ia mengambil postmodernisme serius dan tidak, seperti kritikus lainnya, menolaknya sebagai omong kosong belaka. Memang, bahwa ia mampu membaca teks postmodernis dekat dan diskursif membuktikan kejelasan mereka. Dia juga setuju dengan postmodernis bahwa fokus perdebatan harus pada modernitas seperti yang diwujudkan dalam praktek-praktek sosial dan institusi, bukan pada teori-teori kognisi atau linguistik formal sebagai domain otonom. Dalam hal ini, perhatian Habermas dengan komunikasi antar-subjektif membantu memperjelas dasar yang di atasnya modernis-modernis perdebatan terus bermain keluar.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar