Pengertian
Kota
Kota merupakan kawasan
pemukiman yang secara fisik ditunjukkan oleh kumpulan rumah-rumah yang
mendominasi tata ruangnya dan memiliki beberapa fasilitas untuk mendukung kehidupan
warganya secara mandiri.
Dizaman muthakhir ini
kita dapat dengan mudah mengamati dan menggambarkan apakah “kota” itu, sesuai
dengan tolak ukur atau fokus perhatian kita masing-masing. Oleh karena itu
terdapat banyak definisi tentang kota.
Berikut pendapat para
ahli tentang pengertian kota:
1. Menurut pendapat Mumford
: Kota sebagai tempat pertemuan yang berorientasi ke luar. Sebelum kota menjadi
tempat pemukiman yang tetap, pada mulanya kota sebagai suatu tempat orang
pulang dari tempat mereka bekerja untuk berjumpa keluarga mereka secara
teratur, jadi ada semacam daya tarik pada penghuni luar kota untuk kegiatan
rohaniah dan perdagangan serta,kegiatan lain.
2. Menurut pendapat Max
Weber: Penghuninya sebagian besar telah mampu memenuhi kebutuhannya melalui
pasar setempat dan ciri-ciri kota adalah terdapat fasilitas yang dapat
mendukung kegiatan msyarakat kota seperti tersedianya pasar swalayan.
3. Menurut pendapat
Sjoberg : : Melihat kota dari timbulnya suatu golongan spesialis non agraris
dan yang berpendidikan merupakan bagian terpenting
4. Menurut pendapat
Prof. Bintarto (1984 : 36) Kota adalah sistem jaringan kehidupan manusia yang
ditandai oleh strata sosial ekonomi yang heterogen serta corak matrialistis.
Menurut Peraturan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia No 4/1980 Kota adalah
wadah yang memiliki batasan administratif wilayah seperti kotamadya dan kota administrasi.
Karakteristik
Kota
1. Dari aspek
morfologi, antara kota dan pedesaan terdapat perbedaan bentuk fisik, seperti
cara membangun bangunan-bangunan tempat tinggal yang berjejal dan mencakar
langit (tinggi) dan serba kokoh. Tetapi pada prakteknya kriteria itu sukar
dipakai pengukuran, karena banyak kita temukan dibagian-bagian kota tampak
seperti desa misalnya, didaerah pinggiran kota, sebaliknya juga desa-desa yang
mirip kota, seperti desa-desa di pegunungan dinegara-negara laut tengah.
2. Dari aspek penduduk.
Secara praktis jumlah penduduk ini dapat dipakai ukuran yang tepat untuk
menyebut kota atau desa, meskipun juga tidak terlepas dari kelemahan
–kelemahan. Kriteria jumlah penduduk ini dapat secara mutlak atau dalam arti
relatif yakni kepadatan penduduk dalam suatu wilayah. Sebagai contoh misalnya
dia AS dan Meksiko suatu tempet dikatakan kota apabila dihuni lebih dari 2500
jiwa dan Swedia 200jiwa.
3. Dari aspek sosial,
gejala kota dapat dilihat dari hubungan-hubungan sosial (social interrelation
dan social interaction) di antara penduduk warga kota, yakni yang bersifat
kosmopolitan. Hubungan sosial yang bersifat impersonal, sepintas lalu
(super-ficial), berkotak-kotak, bersifat sering terjadi hubungan karena
kepentingan dan lain-lain, orang ini bebas untuk memilih hubungan sendiri.
4. Dari aspek ekonomi,
gejala kota dapat dilihat dari cara hidup warga kota yakni bukan dari bidang
pertanian atau agraria sebagai mata pencaharian pokoknya, tetapi dari
bidang-bidang lain dari segi produksi atau jasa. Kota berfungsi sebagai pusat
kegiatan ekonomi, perdagangan industri, dan kegiatan pemerintahan serta
jasa-jasa pelayanan lain. Ciri yang khas suatu kota ialah adanya pasar, pedagang
dan pusat perdagangan.
5. Dari aspek hukum,
pengertian kota yang dikaitkan dengan adanya hak-hak dan kewajiban hukum bagi
penghuni, atau warga kota serta sistem hukum tersendiri yang dianut untuk
menunjukkan suatu wilayahtertentu yang secara hukum disebut kota.
Karakteristik kota
dapat di tinjau dari 3 aspek yaitu aspek fisik, aspek sosial, dan aspek
ekonomi. Karakteristik kota sebagai
sebuah konsep yang berkaitan dengan ruang sebagai tempat manusia beraktivitas.
§ Aspek
fisik adalah sebuah kawasan terbangun yang terletak saling berdekatan dan
meluas dari pusat hingga ke wilayah pinggiran yang bias dikatakan wilayah
geografisnya di dominasi oleh struktur binaan.
§ Aspek
sosial, kota merupakan konsentrasi penduduk yang dilihat dari segi mata
pencaharian yang merupakan sebagian dari kependuduka dan dimana bertujuan untuk
meningkatkan produktivitas melalu konsentrasi dan spesialisasi tenaga kerja.
§ Aspek
ekonomi, yaitu dimana memliki fungsi sebagai penghasil barang dan jasa yang
dimna berguna untuk mendukung kehidupan penduduk serta keberlangsungan kota itu
sendiri.
Dalam konteks ruang, kota merupakan satu sistem yang tidak berdiri sendiri, secara internal kota merupakan satu kesatuan sistem kegiatan fungsional di dalamnya, sementara secara eksternal, kota di pengaruhi oleh lingkungan sekitarnya.
Lalu unsur-unsur dalam perencanaan adalah berarti ; memilih, alat untuk mengalokasikan sumber daya, alat untuk mencapai tujuan, untuk masa yang akan datang. Sementara karakteristik dari perencanaan itu sendiri adalah ; mengarah sampai pencapaian tujuan, mengarah ke perubahan, pernyataan pilihan, rasionalitas dan tindakan kolektif sebagai dasar. Peerencanaan kota berorientasi pada aspek fisik dan spasial.
Ciri-ciri
kota
Ciri fisik
kota meliput hal sebagai berikut:
- Tersedianya tempat-tempat untuk
pasar dan pertokoan
- Tersedianya tempat-tempat untuk
parkir
- Terdapatnya sarana rekreasi dan
sarana olahraga
Ciri
kehidupan kota adalah sebagai berikut:
- Adanya pelapisan sosial ekonomi
misalnya perbedaan tingkat penghasilan, tingkat pendidikan dan jenis pekerjaan.
- Adanya jarak social dan
kurangnya toleransi social diantara warganya.
- Adanya penilaian yang
berbeda-beda terhadap suatu masalahdengan pertimbangan perbedaan
kepentingan, situasi dan kondisi kehidupan.
- Warga kota umumnya sangat
menghargai waktu.
- Cara berpikir dan bertindak
warga kota tampak lebih rasional dan berprinsip ekonomi.
- Masyarakat kota lebih mudah
menyesuaikan diri terhadap perubahan social disebabkan adanya keterbukaan
terhadap pengaruh luar.
- Pada umumnya masyarakat kota
lebih bersifat individu sedangkan sifat solidaritas dan gotong royong
sudah mulai tidak terasa lagi.
Fungsi kota
Kota yang
telah berkemang maju mempunyai peranan dan fungsi yang lebih luas lagi antara
lain sebagai berikut :
- Sebagai pusat produksi
(production centre). Contoh: Surabaya, Gresik, Bontang
- Sebagai pusat perdagangan (centre of trade and commerce). Contoh: Jakarta, Bandung, Hong
Kong, Singapura
- Sebagai pusat pemerintahan
(political capital). Contoh: Jakarta (ibukota Indonesia), Washington DC (ibukota Amerika Serikat), Canberra (ibukota
Australia)
- Sebagai pusat kebudayaan (culture centre). Contoh: Yogyakarta dan Surakarta
Pentingnya
Mempelajari Sosiologi Perkotaan
Sosiologi perkotaan
mempelajari masyarakat perkotaan dan segala pola interaksi yang dilakukannya
sesuai dengan lingkungan tempat tinggalnya. Materi yang dipelajari antara lain
mata pencaharian hidup, pola hubungan dengan orang-orang yang ada di
sekitarnya, dan pola pikir dalam menyikapi suatu permasalahan.
Karena di daerah
perkotaan lebih sering terjadi konflik di masyarakatnya. Hal tersebut terjadi
karena adanya strarifikasi sosial dimasyarakat perkotaan. Stratifikasi tersebut
biasanya berupa persaingan dibidang pendidikan, pekerjaan dan perekonomian.
Karena dalam masyarakat kota stratifikasi sosial sangat terlihat.
Maka dari itu sosiologi
perkotaan penting dipelajari, agar masyarakatnya memiliki kontrol sosial di
diri mereka masing-masing.
Perbedaan
Antara Kota dan Desa
Dari definisi yang
telah diajukan baik definisi kota maupun desa kita dapat membuat perbedaan
diantara keduanya. Dikutip dari apa yang dikemukakan oleh P.J.M. Nas, (1979 :
35) yang mengutip pendapat Costandse, sbb :
1.
Kota bersifat besar dan
memberikan gambaran yang jelas sedangkan pedesaan itu kecil dan bercampur-baur,
tanpa gambaran yang tegas.
2. Kota mengenal
pembagian kerja yang luas, desa (pedalaman) tidak.
3. Struktur sosial
dikota mengenal differensiasi yang luas sedangkan dipedesaan relatif sederhana.
4. Individualitas memainkan peranan penting dalam kebudayaan
kota, sedangkan di pedesaan hal ini kurang penting, di pedesaan orang
menghayati hidupnya terutama dalam kompak primer.
5. Kota mengarahkan gaya hidup pada kemajuan, sedangkan
pedesaan lebih berorientasi pada tradisi, dan cenderung pada konservatisme.
Hubungan
Antara Kota Dengan Desa
Masyarakat pedesaan dan
perkotaan bukanlah dua komunitas yang terpisah sama sekali satu sama lain.
Bahkan dalam keadaan yang wajar di antara keduanya terdapat hubungan yang erat,
bersifat ketergantungan, karena di antara mereka saling membutuhkan. Kota
tergantung pada desa dalam memenuhi kebutuhan warganya akan bahan-bahan pangan
seperti beras, sayur-mayur, daging dan ikan.Desa juga merupakan sumber tenaga
kasar bagi jenis-jenis pekerjaan tertentu di kota, misalnya saja buruh bangunan
dalam proyek-proyek perumahan, proyek pembangunan atau perbaikan jalan raya
atau jembatan dan tukang becak. Mereka ini biasanya adalah pekerja-pekerja
musiman. Pada saat musim tanam, mereka sibuk bekerja di sawah. Bila pekerjaan
di bidang pertanian mulai menyurut, sementara menunggu masa panen mereka
merantau ke kota terdekat untuk melakukan pekerjaan apa saja yang tersedia.
Sebaliknya, kota menghasilkan barang-barang yang juga diperlukan oleh orang desa seperti bahan-bahan pakaian, alat dan obat-obatan pembasmi hama pertanian, minyak tanah, obat-obatan untuk memelihara kesehatan dan alat transportasi. Kota juga menyediakan tenaga-tenaga yang melayani bidang¬bidang jasa yang dibutuhkan oleh orang desa tetapi tidak dapat dilakukannya sendiri, misalnya saja tenaga-tenaga di bidang medis atau kesehatan, montir¬montir, elektronika dan alat transportasi serta tenaga yang mampu memberikan bimbingan dalam upaya peningkatan hasil budi daya pertanian, peternakan ataupun perikanan darat.
Dalam kenyataannya hal ideal tersebut kadang-kadang tidak terwujud karena adanya beberapa pembatas. Jumlah penduduk semakin meningkat, tidak terkecuali di pedesaan. Padahal, luas lahan pertanian sulit bertambah, terutama di daerah yang sudah lama berkembang seperti pulau Jawa. Peningkatan hasil pertanian hanya dapat diusahakan melalui intensifikasi budi daya di bidang ini. Akan tetapi, pertambahan hasil pangan yang diperoleh melalui upaya intensifikasi ini, tidak sebanding dengan pertambahan jumlah penduduk, sehingga pada suatu saat hasil pertanian suatu daerah pedesaan hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan penduduknya saja, tidak kelebihan yang dapat dijual lagi. Dalam keadaan semacam ini, kotaterpaksa memenuhi kebutuhan pangannya dari daerah lain, bahkan kadang-kadang terpaksa mengimpor dari luar negeri. Peningkatan jumlah penduduk tanpa diimbangi dengan perluasan kesempatan kerja ini pada akhirnya berakibat bahwa di pedesaan terdapat banyak orang yang tidak mempunyai mata pencaharian tetap. Mereka ini merupakan kelompok pengangguran, baik sebagai pengangguran penuh maupun setengah pengangguran.
Sebaliknya, kota menghasilkan barang-barang yang juga diperlukan oleh orang desa seperti bahan-bahan pakaian, alat dan obat-obatan pembasmi hama pertanian, minyak tanah, obat-obatan untuk memelihara kesehatan dan alat transportasi. Kota juga menyediakan tenaga-tenaga yang melayani bidang¬bidang jasa yang dibutuhkan oleh orang desa tetapi tidak dapat dilakukannya sendiri, misalnya saja tenaga-tenaga di bidang medis atau kesehatan, montir¬montir, elektronika dan alat transportasi serta tenaga yang mampu memberikan bimbingan dalam upaya peningkatan hasil budi daya pertanian, peternakan ataupun perikanan darat.
Dalam kenyataannya hal ideal tersebut kadang-kadang tidak terwujud karena adanya beberapa pembatas. Jumlah penduduk semakin meningkat, tidak terkecuali di pedesaan. Padahal, luas lahan pertanian sulit bertambah, terutama di daerah yang sudah lama berkembang seperti pulau Jawa. Peningkatan hasil pertanian hanya dapat diusahakan melalui intensifikasi budi daya di bidang ini. Akan tetapi, pertambahan hasil pangan yang diperoleh melalui upaya intensifikasi ini, tidak sebanding dengan pertambahan jumlah penduduk, sehingga pada suatu saat hasil pertanian suatu daerah pedesaan hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan penduduknya saja, tidak kelebihan yang dapat dijual lagi. Dalam keadaan semacam ini, kotaterpaksa memenuhi kebutuhan pangannya dari daerah lain, bahkan kadang-kadang terpaksa mengimpor dari luar negeri. Peningkatan jumlah penduduk tanpa diimbangi dengan perluasan kesempatan kerja ini pada akhirnya berakibat bahwa di pedesaan terdapat banyak orang yang tidak mempunyai mata pencaharian tetap. Mereka ini merupakan kelompok pengangguran, baik sebagai pengangguran penuh maupun setengah pengangguran.
Pengaruh
kota terhadap desa:
1)
kota menghasilkan barang-barang yang dibutuhkan desa
2)
menyediakan tenaga kerja bidang jasa
3)
memproduksi hasil pertanian desa
4)
penyedia fasilitas-fasilitas pendidikan, kesehatan, perdagangan, rekreasi
5)
andil dalam terkikisnya budaya desa
Permasalahan
di kota antara lain:
1.
konflik (pertengkaran)
2.
kontroversi (pertentangan)
3.
kompetisi (persaingan)
4.
kegiatan pada masyarakat pedesaan
5.
sistem nilai budaya
Daftar Pustaka
http://karakteristik dan Sejarah Pembentukan Kota _ Ichwan Muis.html
http://ifatrah.blogspot.com/2011/04/demografi-dan-karakteristik-kota.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar